visi & misi
Home » Posts filed under asuransi unitlink
Tampilkan postingan dengan label asuransi unitlink. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label asuransi unitlink. Tampilkan semua postingan
Selasa, 03 Februari 2015
GEMILANG ADALAH SOLUSI BPJS
Minggu, 08 Juni 2014
TAUKAH ANDA CARA KERJA UNITLINK, BENARKAH HANYA MENABUNG 10 TAHUN, DIJAMIN SEUMUR HIDUP?
Sahabat, tahukah anda mengapa Agen Asuransi meminta nasabah Asuransi Unit Link membayar Premi selama 10 tahun?
Dan kenyataannya yang telah berjalan, ketika nasabah sudah membayar asuransi selama 10 tahun namun masih mendapat surat harus tetap membayar lagi?
Dari Gambar di atas sangat Jelas CARA KERJA UNIT LINK. Untuk masuk Produk Unit Link bisa dilakukan dengan dua cara yaitu :
1. Semua Premi di alokasikan ke Proteksi Asuransi.
2. Dari Premi di bagi dua bagian : Proteksi Asuransi dan Tabungan Investasi.
Khusus di Generali hanya bisa di lakukan dengan cara yang ke dua, yaitu sebagian Premi di gunakan untuk Proteksi Asuransi dan sebagian premi di gunakan untuk Tabungan Investasi agar Nasabah Generali jangka panjang memiliki Investasi yang baik sehingga cukup untuk membiayai Biaya-biaya asuransi yang di bebankan seumur hidup kepada Nasabah.
Pada umumnya Dari Premi yang di Bayarkan nasabah akan di kenakan biaya Akuisisi selama 5 tahun seperti dalam gambar pertama bagian A (biaya Akuisisi Polis) dan biaya akuisisi tersebut di luar dari biaya Asuransi, Biaya Administrasi dan biaya - biaya lainnya.
Jika kita perhatikan biaya akuisisi tahun ke 3,4 dan 5 hanya 15%, dan di pikiran nasabah sisa dari 15 % adalah 85% semua di masukan ke Tabungan Investasi, Namun kenyataannya dari sisa yang 85% tersebut harus di gunakan untuk membiayai biaya asuransi yang terhutang di tahun pertama dan kedua di tambah biaya asuransi yang berjalan setelah itu sisanya itulah yang di gunakan untuk Investasi.
Begitu halnya di Tahun ke 6 sudah tidak ada biaya Akuisisi namun BIAYA ASURANSI tetap harus di bayar seumur hidup / sampai manfaat berakhir, sisanya itulah yang di Gunakan untuk Investasi dengan Tujuan untuk Biaya Pendidikan Anak dan Pensiun + membayar biaya asuransi seumur hidup.
Unit Link di bagi dua bagian yaitu Proteksi dan Tabungan Investasi.
Semakin banyak Proteksi yang di ambil nasabah maka semakin besar biaya Asuransi yang di bebankan dan harus tetap di bayar sampai manfaat berkahir atau seumur Hidup nasabah.
Sedangkan Tabungan Investasi Unit link di Kembangkan di Pasar Uang seperti Saham, Obligasi dan Deposito. Kita pasti tahu bahwa yang namanya Investasi Saham bisa Naik dan bisa juga turun. Kalau Investasi naik maka semua orang tahu bahwa uang yang di simpan akan berkembang dan untung, namun di Indonesia yang namanya saham bisa juga turun.
Sejarah menunjukan bahwa dalam 20 tahun terakhir ini kondisi Ekonomi dunia dan indonesia sudah terjadi beberapa kali Krisis dan itu sangat berdampak terhadap Investasi unit Link.
Kisah yang masih sangat segar di Ingatan saya di tahun 2008 terjadi Krisis Global dan harga saham unit link anjlok hingga 50% lebih sehingga dana nasabah di tahun 2008 banyak yang Hilang terutama bagi nasabah yang menarik dana di waktu itu dengan alasan membutuhkan dana atau karena takut lebih rugi lagi jika di biarkan dana tersebut.
Kisah yang masih sangat segar di Ingatan saya di tahun 2008 terjadi Krisis Global dan harga saham unit link anjlok hingga 50% lebih sehingga dana nasabah di tahun 2008 banyak yang Hilang terutama bagi nasabah yang menarik dana di waktu itu dengan alasan membutuhkan dana atau karena takut lebih rugi lagi jika di biarkan dana tersebut.
Kisah tahun 2008 itu bukan tidak mungkin akan terjadi lagi di Indonesia dan mungkin bisa lebih buruk dari tahun 2008, lalu bagaimana dengan nasib nasabah yang ingin menggunakan dananya untuk Pendidikan anaknya dan Pensiun?
Apakah Impiannya akan bisa benar - benar terwujud atau hanya menjadi Impian Belaka? karena setelah nasabah membayar Premi 10 tahun seperti yang di janjikan agen, ternyata nasabah harus tetap membayar BIAYA ASURANSI SEUMUR HIDUP.
Anda bisa bayangkan jika sahabat memiliki POLIS, setelah 10 tahun apakah dana yang tersimpan cukup untuk membayar biaya asuransi seumur hidup? Jika saham turun / anjlok dan biaya terus di potong dalam bentuk unit yang terbentuk di potong dan terus di potong sedang nasabah tidak membayar premi lagi.
Jika Dana terus berkurang dan Habis maka POLIS asuransi akan tidak berfungsi atau LAPSE bahasa asuransinya. Sebesar apapun nama Perusahaannya, Sehebat apapun produk asuransinya itu tidak ada artinya untuk nasabah jika Polisnya sudah Lapse / tidak aktif.
Dengan Kondisi tersebut di butuhkan Solusi Cerdas yang berpihak untuk keuntungan nasabah. Dan Solusi itu hanya ada di GENERALI, sejak pertama kali masuk menjadi nasabah, Generali memiliki REM INVESTASI yang bernama ARMS yang sudah di Hak Patenkan selama 20 tahun (artinya perusahaan lain selain Generali tidak bisa menggunakan sistem ini sampai 20 tahun kedepan).
Jadi, Nasabah Generali sejak awal sudah bisa membatasi kerugian dengan fitur CUT LOSS dan tidak membatasi Keuntungan dengan Fitur Profit Climbing. Kelak nasabah akan Puas, Nyaman, Aman dan Investasi yang menguntungkan sehingga Polis terbebas dari LAPSE walau hanya bayar premi 10 tahun.
GENERALI memang BERBEDA dengan Perusahaan asuransi lainnya.
Kebanyakan Nasabah asuransi tidak memahami cara kerja Unit Link yang sebenarnya, karena jika Agen menjelaskan secara detail cara kerja Unit Link di kwatirkan nasabah tidak jadi membeli asuransi karena Resiko yang harus di hadapin invetasi Unit Link.
Padahal menurut saya nasabah WAJIB mengetahuinya sehingga tidak terjadi komplain dibelakang hari yang mengakibatkan nasabah merasa di tipu atau ada yang di sembunyikan. Namun di pahami mengapa agen asuransi secara umum tidak menjelaskan itu dikarena tidak ada solusi dari masalah tersebut. Selama ini perusahaan asuransi tidak memiliki Solusi yang di hadapi produk Unit Link
Dalam berinvestasi di pasar modal, investor dihadapkan pada kondisi ketidakpastian. Pergerakan naik turunnya harga pasar yang tinggi dan tidak diharapkan dapat terjadi sewaktu-waktu.
Gejolak perekonomian di dalam maupun di luar negeri dapat menimbulkan pengaruh yang besar pada pergerakan harga di pasar modal. Selain itu, sentimen para investor juga mempengaruhi pergerakan harga di pasar modal.
Gejolak harga yang terjadi di pasar modal merupakan risiko yang mau tidak mau harus dihadapi para investor. Bila tidak ditangani dengan tepat dan cermat, investasi akan mengalami kerugian. Jika penurunan nilai investasi terjadi saat dana masih lama dibutuhkan, maka masih terdapat banyak waktu untuk memulihkan nilai aset yang dimiliki.
Namun, apabila krisis terjadi saat menjelang dana dibutuhkan, maka risiko akan sangat sulit untuk dikendalikan. Bila tidak dikelola dengan tepat, kerugian akan menjadi hasil akhir dari investasi yang dilakukan.
Yang selanjutnya menjadi masalah, dalam mengelola investasinya, investor juga dihadapkan pada berbagai keterbatasan. Salah satu keterbatasan yang dimilikinya adalah emosi sebagai manusia. Investor cenderung untuk membeli saat harga di pasar modal tengah meningkat.
Dalam hal ini, ketika harga tengah meningkat, sifat manusiawi mendorongnya untuk berinvestasi karena bayangan akan keuntungan yang dapat diperolehnya. Emosi pula yang menyebabkan investor justru keluar dari pasar dan menjual aset investasinya saat harga tengah menurun karena rasa takut bahwa harga akan terusmenerus merosot.
Bahkan setelah keluar dari pasar, pengalaman akan kerugian ini menyebabkan investor merasa takut untuk kembali berinvestasi dalam jangka waktu lama. Saat ia memutuskan untuk kembali berinvestasi, harga telah berada di tingkat yang lebih tinggi.
Contoh lainnya adalah ketika investor tengah mengalami peningkatan harga dari aset investasi yang dimilikinya, sifat yang tidak pernah puas menyebabkan ia menunda untuk segera merealisasikan keuntungan dengan menjual asetnya tersebut.
Yang terjadi selanjutnya, harga justru sudah kembali turun dan ia terlambat untuk menikmati keuntungan dari investasinya. Jelaslah bahwa rasa takut dan tidak pernah puas. seringkali menyebabkan investor membuat keputusan yang terburu-buru, atau sebaliknya, malah menunda keputusan.
Keterbatasan-keterbatasan lain yang dimiliki investor adalah ketiadaan waktu dan akses untuk selalu memonitor pergerakan harga di pasar modal.
Untuk itu, diperlukan suatu sistem yang dapat membantu investor dalam mengelola risiko tersebut. Sistem ini harus dapat selalu memantau pergerakan harga, berjalan secara otomatis, dan tidak terpengaruh oleh emosi manusia.
ARMS sebagai Jawabannya...
Untuk menjawab kebutuhan investor dalam pengelolaan risiko investasi, Generali Indonesia telah menciptakan sistem manajemen risiko yang berjalan secara otomatis.
Sistem ini disebut Auto Risks Management System (ARMS). ARMS memadukan berbagai metode manajemen risiko yang dijalankan secara otomatis (Komputerisasi / robotik). Dalam hal ini, metode yang dimaksud terdiri dari :
Auto Balancing
Auto Trading
Auto Re-entry Bounce Back
Auto Balancing
Auto Balancing merupakan fitur yang berfungsi untuk menjaga komposisi Aset Portofolio Investasi sesuai dengan profil risiko yang dimiliki investor secara otomatis dan konsisten dari waktu ke waktu. Ini dilakukan melalui proses jual beli aset saat komposisi tipe aset dalam portofolio investasi tidak sesuai dengan komposisi yang telah ditetapkan sebelumnya oleh investor.
Yang menarik, dengan Auto Balancing, investor secara konsisten akan membeli aset tertentu saat harganya rendah dan menjual aset tertentu saat harganya tinggi sehingga imbal hasil investasi yang diperoleh juga akan meningkat.
Atau, dengan kata lain prinsipBuy Low-Sell High terjadi secara konsisten. Hal ini dilakukan dengan cara menjual aset yang kinerjanya lebih baik (outperforming asset) dan membeli aset yang kinerjanya lebih rendah(underperforming asset) secara bersamaan pada saat terjadi perubahan komposisi tipe aset yang tidak diinginkan.
Dengan Auto Balancing, pergerakan harga masing-masing aset investasi akan dipantau setiap hari dan proses di atas akan dilakukan sesuai dengan batas toleransi yang diinginkan investor secara konsisten dan terus menerus.
Auto Trading
Auto Trading merupakan fitur yang berfungsi untuk memantau dan menjaga kinerja portofolio investasi agar konsisten dengan tujuan investasi yang dimiliki investor secara otomatis dari waktu ke waktu. Dalam berinvestasi, setelah mencapai target pengembangan dana investasi, investor harus merealisasikan keuntungannya (profit taking).
Sebaliknya, saat terjadi penurunan dana investasi melebihi batas yang dapat ditoleransi, investor harus segera keluar dari pasar untuk mencegah kerugian lebih jauh (cut loss). Dengan Auto Trading, proses realisasi keuntungan atau mencegah kerugian ini berjalan secara otomatis
Pengembangan Lebih Lanjut dari Auto Trading:
- Profit Climbing
Dalam perkembangan selanjutnya, sebagai alternatif dari Profit Taking, Auto Trading memiliki fitur Profit Climbing yang digunakan untuk membantu investor agar tidak merealisasikan keuntungannya terlalu dini di saat pasar investasi masih dapat terus tumbuh.
Konsep ini dapat dianalogikan dengan seseorang yang sedang menaiki tangga di mana pada setiap anak tangganya disiapkan jaring pengaman. Orang ini dapat terus menaiki tangga tanpa henti tanpa harus takut jatuh. Saat orang ini jatuh dari anak tangga manapun, jaring pengaman telah tersedia sehingga ia tidak jatuh jauh ke dasar lantai.
- Auto-Re-entry
Auto Re-entry adalah fitur di dalam Auto Trading yang berfungsi untuk menginvestasikan kembali seluruh hasil investasi yang telah direalisasikan dan/atau diamankan secara otomatis dan sesuai dengan profil risiko dan tujuan investasi yang dimiliki investor.
Setelah keluar dari pasar, baik karena realisasi keuntungan atau menghindari kerugian lebih jauh, investor harus menentukan kapan ia akan kembali berinvestasi. Momen terbaik untuk masuk kembali adalah saat harga instrumen investasi (yang dimiliki investor sebelum keluar dari pasar) lebih murah.
Setelah keluar dari pasar, baik karena realisasi keuntungan atau menghindari kerugian lebih jauh, investor harus menentukan kapan ia akan kembali berinvestasi. Momen terbaik untuk masuk kembali adalah saat harga instrumen investasi (yang dimiliki investor sebelum keluar dari pasar) lebih murah.
Hal ini dilakukan dengan mengawasi perkembangan harga di pasar setelah investor keluar dari pasar. Bila harganya turun lebih lanjut hingga mencapai titik yang telah ditetapkan, investor sebaiknya kembali berinvestasi seperti sediakala. Dengan Auto Re-entry, proses berinvestasi kembali ini berjalan secara otomatis.
- Bounce Back
Bounce Back merupakan fitur pada fasilitas investasi yang berfungsi untuk mengalokasikan kembali Nilai Investasi yang telah direalisasikan dan/atau diamankan secara otomatis melalui fitur Auto Trading, pada alokasi Jenis Dana Investasi yang ditentukan oleh nasabah, dalam suatu periode dan parameter tertentu yang ditentukan oleh Generali Indonesia.
Fungsi fitur Bounce Back hampir sama dengan fitur Auto Re-Entry, perbedaannya terletak pada parameter pengalokasian kembali nilai investasi, dimana Auto Re-Entry menggunakan parameter yang ditentukan oleh nasabah, sementara Bounce Back menggunakan parameter tertentu yang ditentukan oleh Generali Indonesia dengan menggunakan sistem dan tim investasi professional yang dimilikinya.
Dalam hal ini, saat parameter ini menghasilkan sinyal yang menunjukkan bahwa harga pasar investasi telah memasuki tren peningkatan, maka dana investasi akan kembali dialokasikan sesuai dengan komposisi sebelum Auto Trading terpicu.
Semoga posting ini bisa bermanfaat untuk sahabat Indonesia, silakan sahabat Cek & Ricek POLIS yang ada di rumah sahabat, apakah Polis tersebut sudah memiliki PENGAMAN INVESTASI UNIT LINK?
Jika jawabannya belum ada, jangan sampai terlambat. Sejak sekarang perbaiki Polis anda dan saya siap membantu sahabat dalam merencanakan Keuangan keluarga demi masa depan yang CEMERLANG.
Keputusan kita hari ini akan menentukan masa depan keluarga kita. Jangan tunda lagi.sekarang juga pastikan POLIS sahabat memiliki ARMS.
Minggu, 23 Maret 2014
GENERALI ANDALKAN UNIT LINK
JAKARTA. Pada awal tahun 2014 ini, sejumlah perusahaan asuransi kembali mengeluarkan beberapa produk unitlink atau asuransi berbalut investasi. Sebut saja Jiwasraya yang bekerjasama dengan Bank Victoria, kemudian ada AIA Indonesia yang menggandeng BCA sebagai partner untuk memasarkan produk unitlink-nya.
Yang terbaru, peluncuran produk unitlink dari Generali Indonesia berkerjasama dengan Bank Victoria pada Kamis (20/2).
Lalu, bagaimana sebenarnya kinerja unitlink perusahaan asuransi tahun lalu ketika pasar sedang bergejolak dan prospeknya di tahun ini?
Biarpun pada tahun lalu ada gejolak di pasar saham, namun ternyata PT Asuransi Jiwa Generali Indonesia (Generali) masih mampu bertumbuh cukup tinggi. Generali Indonesia membukukan pendapatan premi pada 2013 hingga mencapai Rp 1,301 Triliun dengan kenaikan pertumbuhan sebesar 102% dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2012 yang hanya mencapai Rp 644 miliar. Generali juga berhasil melampaui target Rp 900 miliar.
Berdasarkan data dari Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia yang sudah diolah, Generali Indonesia mencatat rata-rata pertumbuhan per tahunnya sejak 2010-2013 sebesar 135,8%. Biarpun begitu, bila dilihat dari tingkat rangking, Generali Indonesia menempati rangking ketujuh dalam total Single Premium Unitlink tahun 2013 dengan nilai Rp 770,8 miliar dan peringkat ketujuh dalam Bancassurance Single Premium Unitlink 2013 dengan nilai Rp 684,6 miliar.
Chief Excecutive Officer (CEO) Generali, Edi Tuhirman bilang, produk unitlink tahun lalu memang tumbuh sangat luar biasa. Dari total pendapatan premi tahun lalu sebanyak 76% disumbang dari produk unitlink, sedangkan sisanya yang sebesar 24% disumbang dari produk tradisional.
Edi mengatakan, ketika terjadi pertumbuhan ekonomi yang melambat, banyak nasabah yang masih menaruh uangnya di Generali Indonesia. Dengan sistem Auto Risk Management System (ARMS), uang nasabah dipindahkan ke kantong investasi yang lebih aman seperti pasar uang.
"Jadi nasabah tidak perlu menarik uangnya. Begitu pasar lagi turun, dana otomatis masuk pasar uang. Jadi jangan sampai dana tersebut ditarik lagi ke nasabah, kemudian ketika pasar naik, masuk lagi ke kita, kita akan kehilangan waktu. Kan pasar geraknya sangat cepat, " kata Edi.
Edi menjelaskan, saluran investasi unitlink yang ada di Generali masuk saham (equity), pendapatan tetap, dan pasar uang. Pada saat masuk, premi dari nasabah akan ditaruh di equity, namun untuk selanjutnya bisa berubah tergantung pada kondisi pasar saat itu.
Edi menambahkan, setiap harinya akan ada sistem penyeimbang ulang otomatis. Ketika indeks saham jatuh akan jauh lebih aman ditempatkan di pasar uang, sehingga resiko ketika turun lebih kecil. Setelah pasar stabil, maka akan masuk kembali ke komposisi investasi sesuai dengan yang telah ditentukan oleh nasabah.
"Kalau pasar lagi jatuh, kita biasaya banyak ke pasar uang karena terjadi proses cut loss. Tetapi kalau pasar lagi naik tajam seperti saat ini, kemungkinan besar banyak bermain di ekuitas. jadi sangat tergantung kondisi pasar setiap harinya," kata Edi menjelaskan.
Sumber : http://mobile.kontan.co.id/news/generali-andalkan-unitlink-memupuk-premi
"Kalau pasar lagi jatuh, kita biasaya banyak ke pasar uang karena terjadi proses cut loss. Tetapi kalau pasar lagi naik tajam seperti saat ini, kemungkinan besar banyak bermain di ekuitas. jadi sangat tergantung kondisi pasar setiap harinya," kata Edi menjelaskan.
Sumber : http://mobile.kontan.co.id/news/generali-andalkan-unitlink-memupuk-premi
Rabu, 12 Februari 2014
SETIAP ORANG BERESIKO, HANYA TIDAK TAU KAPAN?
Semua orang, baik kaya maupun miskin, menghadapi dua risiko yang
sama, yakni sakit dan mati. Seseorang boleh saja memiliki gaji ratusan
juta rupiah saban bulan. Tapi, ketika sakit datang, ia tak bisa
mengelak.
Gaji dan kekayaannya juga belum tentu cukup membiayai pengobatannya. Urusan kapan ajal menjemput kita lebih misterius lagi.
Masalahnya, ketika benar-benar datang, risiko sakit dan meninggal itu akan mengganggu perencanaan keuangan kita sebagai individu atau keluarga. Kematian orang yang menjadi tulang punggung ekonomi keluarga, misalnya, bisa mengancam masa depan pendidikan buah hati. Persoalan kian rumit jika keluarga itu menanggung utang.
Jangan keburu paranoid! Semua risiko bisa kita hadapi jika kita mau mengantisipasinya sejak dini. Untuk mengantisipasi dua risiko utama dalam hidup tadi, para perencana keuangan menyarankan, setiap keluarga menyiapkan proteksi berupa asuransi. Ini syarat mutlak sebelum kita menyusun rencana keuangan yang lain.
Di tengah tawaran produk asuransi yang semakin marak, tentu saja, kita tidak bisa asal mencomot produk asuransi. Masalahnya, memilih produk asuransi tidak mudah. Orang bilang, asuransi adalah produk yang manfaatnya tidak bisa langsung terlihat ketika baru dibeli. Alhasil, kita kerap diliputi kebingungan dalam menjatuhkan pilihan atau malah merasa tidak memerlukan asuransi.
Meski begitu, kita tak perlu gelap mata dengan membeli berbagai macam polis asuransi sekaligus. Betul, sebagai perlindungan dari beragam ancaman lingkungan, idealnya, segala risiko perlu diproteksi. Namun, karena keterbatasan dana, kita harus bisa memilih asuransi yang sesuai isi kantong dan kebutuhan hidup.
Gaji dan kekayaannya juga belum tentu cukup membiayai pengobatannya. Urusan kapan ajal menjemput kita lebih misterius lagi.
Masalahnya, ketika benar-benar datang, risiko sakit dan meninggal itu akan mengganggu perencanaan keuangan kita sebagai individu atau keluarga. Kematian orang yang menjadi tulang punggung ekonomi keluarga, misalnya, bisa mengancam masa depan pendidikan buah hati. Persoalan kian rumit jika keluarga itu menanggung utang.
Jangan keburu paranoid! Semua risiko bisa kita hadapi jika kita mau mengantisipasinya sejak dini. Untuk mengantisipasi dua risiko utama dalam hidup tadi, para perencana keuangan menyarankan, setiap keluarga menyiapkan proteksi berupa asuransi. Ini syarat mutlak sebelum kita menyusun rencana keuangan yang lain.
Di tengah tawaran produk asuransi yang semakin marak, tentu saja, kita tidak bisa asal mencomot produk asuransi. Masalahnya, memilih produk asuransi tidak mudah. Orang bilang, asuransi adalah produk yang manfaatnya tidak bisa langsung terlihat ketika baru dibeli. Alhasil, kita kerap diliputi kebingungan dalam menjatuhkan pilihan atau malah merasa tidak memerlukan asuransi.
Meski begitu, kita tak perlu gelap mata dengan membeli berbagai macam polis asuransi sekaligus. Betul, sebagai perlindungan dari beragam ancaman lingkungan, idealnya, segala risiko perlu diproteksi. Namun, karena keterbatasan dana, kita harus bisa memilih asuransi yang sesuai isi kantong dan kebutuhan hidup.
Hitung kebutuhan dengan cermat
Karena itu, sebelum memilih produk asuransi, kita perlu melakukan profiling. Profiling adalah analisa yang meliputi kedudukan si calon nasabah dalam keluarga, siapa saja anggota keluarga yang jadi tanggungannya, sejarah kesehatan, pekerjaan, karakter, kebutuhan, dan kondisi lingkungan.
Dengan mengetahui profil diri sendiri, seseorang bisa menentukan risiko dan jenis asuransi apa saja yang dibutuhkannya. Apalagi, risiko atau kebutuhan hidup selalu berkembang dan berubah seiring perjalanan waktu dan nasib seseorang.
Risiko yang paling pasti adalah meninggal dunia. Risiko ini dapat timbul karena sakit, kecelakaan, bencana alam atau peristiwa-peristiwa lain yang tak terduga. Otomatis, risiko ini wajib diproteksi oleh mereka yang memiliki nilai ekonomis atau menjadi sumber penghasilan keluarga. Jika si sumber pendapatan tersebut meninggal dunia atau mengalami kecelakaan berat, produk asuransi dapat dipakai oleh anggota keluarga yang ditimpa kemalangan itu untuk membiayai kebutuhan hidupnya dan terbebas dari kesulitan finansial.
Karena itu, asuransi jiwa sifatnya wajib bagi pencari nafkah atau tulang punggung keluarga. Sedangkan jika tidak punya tanggungan atau tidak ingin mewariskan apapun, orang tersebut tidak memerlukan asuransi jiwa.
Risiko atau ancaman lain adalah kemungkinan menderita sakit, cacat atau kelumpuhan. Alih-alih mencomot dana investasi, lebih aman jika biaya berobat berasal dari klaim asuransi yang kita cairkan. Jadi, biaya itu tidak mengganggu alokasi dana darurat atau dana investasi.
Asuransi kesehatan yang dapat melindungi seseorang dari berbagai risiko itu diperlukan, tidak hanya bagi si pencari nafkah tapi juga setiap orang. Tapi untuk efisiensi, asuransi kesehatan terutama dibutuhkan bagi si pencari nafkah.
Risiko yang juga dapat mengancam tujuan hidup dan kesejahteraan seseorang adalah kehilangan atau kerusakan barang berharga yang dimiliki. Namun, dalam menentukan jenis asuransi yang diperlukan untuk memproteksi harta benda, kita harus membuat skala prioritas.
Untuk mengukur jenis harta benda yang wajib diproteksi, kita bisa melihat nilai dan manfaat harta tersebut. Misalnya, rumah tinggal dan kendaraan sangat penting untuk aktivitas keluarga.
Ancaman lain yang berpotensi menghampiri hidup seseorang dapat bersumber dari lingkungan. Misalnya risiko inflasi, bencana alam, penipuan investasi, dan sebagainya.
Para perencana keuangan sepakat menyarankan, sebuah keluarga minimal harus memiliki asuransi yang terkait dengan risiko pribadi, yakni asuransi jiwa dan asuransi kesehatan. Di luar dua asuransi itu, kita bisa memiliki asuransi lain sesuai kebutuhan dan prioritas masing-masing.
Dalam memilih asuransi, kita juga harus menaksir kebutuhan uang pertanggungan. Kebutuhan pertanggungan asuransi jiwa, misalnya, dapat berdasar penghasilan atau pengeluaran seseorang. Ini juga terkait jangka waktu proteksi yang dibutuhkan. Misalnya sampai anak terkecil sudah punya penghasilan.
Setelah mengetahui uang pertanggungan dan masa proteksi, langkah terakhir adalah membuat simulasi perhitungan asuransi untuk mengetahui jumlah premi yang harus kita dibayarkan. Maklum, selain pengeluaran premi asuransi, sebuah keluarga pasti memiliki daftar panjang pengeluaran-pengeluaran pokok lainnya yang juga tak boleh diabaikan.
Jika anda masih bingung, hubungi pemilik BLOG ini agar dapat membantu anda dalam PERENCANAAN KEUANAGAN OPTIMAL bersama GENERALI INDONESIA.
Hubungi :
financial plannerHERIANSYAH PUTRA
Agen Code : 68005102
AAJI liscense : 14167382
HP : 0 8 1 3 7 0 4 3 4 4 3 3
Selasa, 11 Februari 2014
MENGENAL LEBIH JAUH MENGENAI ASURANSI
KOMPAS.com — Di zaman
sekarang ini, asuransi telah menjadi hal yang umum dan bahkan wajib
untuk dimiliki. Namun, belum semua orang mengerti asuransi.
Dari
sisi pengertian, asuransi adalah pertanggungan. Di sini ada perjanjian
yang dibuat antara kedua pihak, yaitu penanggung dan tertanggung dalam
sebuah ikatan. Ikatan di sini adalah bagi tertanggung maka harus
membayar premi.
Premi di sini adalah membayar uang kerugian ketiga
tertanggung mengalami kerugian di suatu saat nanti, baik kerugian yang
pasti maupun ketidakpastian.
Bagi penanggung maka harus memberikan
suatu pembayaran uang berdasarkan asuransi yang diambil, misalnya
asuransi jiwa (kesehatan atau meninggal dunia) atau asuransi kerugian
(kebakaran, mobil, rumah, barang berharga, dan sebagainya).
Sementara
pengertian asuransi berdasarkan Undang-Undang Hukum Dagang Bab 9 Pasal
246 yaitu suatu perjanjian antara pihak tertanggung dan penanggung,
dengan menerima suatu premi untuk memberikan penggantian kepada pihak
tertanggung karena suatu kerugian, kerusakan, atau kehilangan keuntungan
yang diharapkan atau mungkin kerugian karena suatu peristiwa tertentu.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa asuransi merupakan:
1. Sebuah perjanjian
2. Ada syarat dalam sebuah perjanjian, yaitu membayar premi
3. Akan diberikan penggantian kepada tertanggung oleh penanggung
4. Ada kemungkinan bahwa peristiwa tidak pasti atau tidak tentu bisa terjadi
2. Ada syarat dalam sebuah perjanjian, yaitu membayar premi
3. Akan diberikan penggantian kepada tertanggung oleh penanggung
4. Ada kemungkinan bahwa peristiwa tidak pasti atau tidak tentu bisa terjadi
Sementara
premi adalah biaya berasuransi yang menjadi prasyarat dalam perjanjian
berasuransi. Karena tanpa adanya premi maka tidak akan ada asuransi (no premium no insurance).
sumber : www.kompas.com
BELI ASURANSI, SEBAIKNYA LEWAT BANK ATAU AGEN?
KOMPAS.com - Membeli produk asuransi kini kian mudah. Banyak saluran distribusi untuk bisa membelinya. Di mana saja?
Pada umumnya, produk asuransi disebarkan melalui dua jalur, yaitu agen dan non agen. Namun sebenarnya inti dari dua jalur itu tetap sama, yaitu bisa bertatap muka untuk bisa menjelaskan secara rinci produk asuransi yang akan kita ambil.
Khusus jalur agen, calon nasabah harus menemui agen yang telah memiliki sertifikasi Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI). "Bila perlu, silahkan meminta agen tersebut menunjukkan kartu lisensinya dan masa berlakunya agar Anda terpastikan statusnya," kata Direktur Eksekutif AAJI Benny Waworuntu.
Tujuannya, agar secara hukum dapat dipertanggungjawabkan. Selain itu, calon nasabah akan dapat mengetahui produk asuransi yang benar-benar diinginkannya.
Sementara untuk non agen, jalur distribusi yang biasa dipakai adalah melalui bank dan telemarketing. Jalur distribusi non agen ini lebih tepat jika calon nasabah berniat membeli asuransi yang melekat dengan produk perbankan, seperti deposito, tabungan pendidikan, tabungan berjangka ataupun pembiayaan.
Namun sebelum membeli produk asuransi ini dan memutuskan untuk memilih distribusinya, yang terpenting adalah memilih perusahaan asuransi yang tepat. "Karena sebagus-bagusnya agen, kalau perusahaannya bangkrut, yang membayar klaim adalah perusahaan, bukan agen," tambahnya.
Dari data AAJI, saat ini jalur non agen khususnya bank sudah menjadi kontributor terbesar dalam penyumbang premi, dibanding agen. Berdasarkan data AAJI kuartal II-2012, total premi yang masuk Rp 49,65 triliun. Jalur bank mengontribusikan Rp 20,1 triliun. Sementara dari agen Rp 19,5 triliun. Sisanya dari telemarketing Rp 1 triliun dan Rp 9 triliun dari saluran distribusi lainnya.
"Ini merupakan sejarah baru bagi bisnis bancassurance (asuransi melalui bank). Selama ini jalur dari agen selalu mendominasi," tambah Benny.
Padahal jumlah agen selalu bertambah setiap tahunnya. Di periode yang sama, jumlah agen mencapai 308.229 orang atau meningkat 43,2 persen dibanding tahun semester I-2011 sebesar 215.304 orang.
"Meski jalur dari bank semakin kuat, keagenan akan menjadi tulang punggung bagi industri asuransi jiwa sampai akhir tahun," tambahnya.
Senin, 10 Februari 2014
UNITLINK : PROTEKSI + INVESTASI
Sampai saat ini, masih banyak perdebatan seputar untung rugi memiliki unit link. Bagi yang tidak mengerti dan tidak mau ambil pusing memutuskan untuk tidak memiliki unit link. Memang, unit link bukanlah hal yang mudah dipahami dalam waktu sebentar.
Sebelum hadirnya produk unit link, masing masing produk asuransi jiwa,
asuransi kesehatan, dan investasi reksadana ditawarkan terpisah,
sehingga sedikit kalangan masyarakat yang dapat menikmati ketiganya
sekaligus. Idealnya, ketiga produk tersebut harus dimiliki secara
bersamaan untuk memastikan tercapainya tujuan investasi.
Bagaimana Asuransi Dapat Memastikan Tujuan Investasi Tercapai?
Untuk mendapatkan hasil investasi reksadana yang diinginkan / di
rencanakan, investor sangat bergantung dengan waktu. Umumnya, hasil yang
menguntungkan didapat dalam waktu beberapa tahun, dan banyak hal yang
dapat terjadi dalam waktu penantian tersebut.
Jika terjadi sesuatu seperti sakit, kecelakaan atau meninggal dunia,
mungkin satu satunya jalan untuk menutup seluruh biaya tersebut adalah
dengan merogoh modal investasi anda (karena sudah pasti aset tersebut
lebih mudah dicairkan dibanding aset anda yang lain seperti rumah,
mobil, bisnis, dll). Tentu hal ini menghambat / memperpanjang target
waktu pencapaian investasi anda. Dengan memiliki asuransi, tujuan
investasi anda tidak akan pernah terganggu karena hal mendesak tersebut.
Namun, tidaklah mudah bagi banyak orang untuk mengelola ketiganya
secara terpisah (reksadana + asuransi kesehatan +asuransi jiwa),
terutama dalam mengalokasikan budget untuk ketiganya sekaligus.
Dengan kehadiran unit link, hal tersebut menjadi jauh lebih mudah.
Apa itu Unit Link?
Secara umum, unit link adalah gabungan asuransi jiwa + asuransi
kesehatan + investasi dalam bentuk reksadana. Asuransi jiwa dan asuransi
kesehatan yang di bundle ke dalam produk unit link adalah asuransi yang
bersifat term. Ketiga produk tersebut digabung menjadi satu dan saling
bergantung satu sama lain.
Investasi pada Unit Link
Seperti dibahas sebelumnya, investasi pada unit link dikelola dalam
bentuk reksadana. Pengelolaan reksadana itu sendiri tidak dilakukan oleh
perusahaan asuransi, melainkan oleh perusahaan investasi khusus
pengelola reksadana (fund manager) yang ditunjuk oleh perusahaan
asuransi. Beberapa perusahaan asuransi memiliki fund manager sendiri,
tapi tetap berada diluar bisnis asuransinya.
Asuransi Kesehatan pada Unit Link
Asuransi kesehatan yang dipaketkan dalam produk unit link adalah
merupakan perlindungan asuransi tambahan, yang dikenal dengan istilah
rider. Terdapat berbagai macam rider yang ditawarkan oleh masing masing
perusahaan asuransi pada produk unit link, salah satu rider yang paling
umum adalah perlindungan rumah sakit untuk rawat inap. Masih banyak
rider lain seperti perlindungan cacat total dan tetap, pengurangan
premi, penyakit kritis, perlindungan tambahan bagi keluarga tertanggung,
dsb. Biaya bagi masing masing rider tersebut pun dikenakan secara
terpisah yang dipotong dari nilai investasi anda. Rider ini bisa
diberhentikan kapan saja, baik oleh nasabah atau perusahaan asuransi.
Nasabah pun diberi keleluasaan untuk memilih menggunakan rider atau
tidak sama sekali pada saat pengajuan.
Asuransi Jiwa pada Unit Link
Tidak seperti rider, asuransi jiwa pada unit link merupakan paket wajib
yang disertakan. Besar kecilnya uang pertanggungan ditentukan sesuai
keinginan nasabah (ada batas minimum) dan jumlah premi. Karena asuransi
jiwa yang berjenis term, maka premi pun harus dibayarkan (dibayarkan
otomatis secara rutin dari nilai investasi) selama anda diproteksi. Anda
pun dapat memilih sampai umur berapa ingin diproteksi. Pilihan yang
tersedia mulai dari 75 thn s/d 99 thn.
Apakah Unit Link beresiko?
Temukan jawabannya, disini :
Kamis, 06 Februari 2014
LATAR BELAKANG PERUSAHAAN
Generali adalah salah satu perusahaan
terkemuka di pasar asuransi dan keuangan global. Perusahaan induk dan
prinsipal dari grup ini adalah Assicurazioni Generali, yang memimpin
pasar di Italia. Sejak pertama didirikan pada 1831 di Trieste,
Perusahaan telah memiliki orientasi internasional.
Dengan didukung oleh 80,000 karyawan, Generali Group memiliki lebih dari 65 juta klien di seluruh dunia dan beroperasi di lebih dari 60 negara.
Daerah operasional utama Perusahaan adalah Eropa Barat, namun beberapa
tahun belakangan ini Group telah memasuki pasar Eropa Tengah dan Timur,
serta mendirikan kantor di pasar-pasar utama di benua Asia.
Strategi Grup bertujuan untuk mengkonsolidasikan keunggulan Generali pada pasar-pasar utama dan mencapai posisi utama di pasar dengan potensi pertumbuhan yang tinggi, membangun kepemimpinan dalam profitabilitas.
Kekuatan dan soliditas finansial
senantiasa merupakan fitur dari Assicurazioni Generali. Dengan basis
kapital yang kuat dan alokasi aset yang konservatif, Group mendapatkan
peringkat yang tinggi dari perusahaan bertaraf internasional.
Generali
adalah pemain kunci di Eropa Tengah, Asuransi Jiwa terbesar dan dengan
kehadiran signifikan di semua negara-negara utama. Generali mendapat peringkat pertama di Italia dan peringkat ke-dua di Jerman dan Perancis.
Dengan pengalaman selama hampir 200 tahun, Generali Group beroperasi pada semua lini asuransi,
dari perlindungan akan risiko massal hingga perlindungan canggih untuk
sektor industri, dari asuransi rumah tangga yang sederhana hingga
kebutuhan yang lebih kompleks dari perusahaan multinasional di seluruh
dunia, melayani jutaan individu maupun pabrik manufaktur raksasa, dan
sistem transportasi dan komunikasi.
Untuk melayani pelanggan retail,
perusahaan kecil dan menengah, dan korporasi besar, Group menjangkau
klien di seluruh dunia melalui strategi distribusi multi-channel.
Seiring dengan strategi diversifikasi bisnis,
Generali juga memfokuskan diri pada penyediaan perlindungan terhadap
individu, melindungi pemasukan mereka, dan mengoptimalkan simpanan
mereka melalui produk-produk asuransi jiwa dalam skema individu dan
pensiun kelompok.
Generali menawarkan solusi yang canggih untuk
perusahaan multinasional melalui struktur spesialis yang dinamakan
Generali Employee Benefits (GEB) atau Pertanggungan Pegawai Generali,
yang berlokasi di Belgia.
Rabu, 05 Februari 2014
BELI SELAGI MUDA, TERJAGA SEUMUR HIDUP
Whole Life : perlindungan seumur hidup bagi mereka yang ingin memberikan warisan kepada orang-orang terkasih.
Asuransi jiwa seumur hidup atau whole life sangat tepat bagi mereka yang membutuhkan perlindungan jangka panjang. Sebaiknya jangan campurkan produk ini dengan produk investasi (unitlink) karena return yang Anda harapkan tidak akan optimal.
Asuransi jiwa seumur hidup (whole life) merupakan salah satu jenis asuransi jiwa tradisional. Produk whole life memberikan dua jenis manfaat bagi pemiliknya. Pertama, perlindungan kematian hingga usia 99 tahun. Kedua, memberikan nilai tunai yang akan muncul pada usia pertanggungan yang kesekian. “Premi asuransi dapat dibayarkan dalam jangka waktu 5 tahun, 10 tahun, 15 tahun, dan 20 tahun.
Produk whole life sangat tepat bagi Anda yang membutuhkan perlindungan jangka panjang dengan cukup membayar premi untuk periode tertentu saja. Whole life juga cocok bagi Anda yang ingin mewariskan sejumlah uang untuk orang-orang terkasih.
Sedangkan produk asuransi lainnya seperti term life perlu diperbaharui dalam jangka waktu tertentu. “Umumnya apabila kontrak term life habis dan akan diperpanjang lagi, bisa jadi premi lebih besar atau justru Anda tidak bisa melanjutkan kontrak.”
Hal ini disebabkan karena, risiko kesehatan meningkat seiring dengan usia yang bertambah.
Apalagi, jika setelah cek kesehatan ulang ditemukan beberapa penyakit baru. Risiko ini kemudian ditransfer ke nilai premi yang lebih besar. Selain itu, asuransi whole life mempunyai manfaat lain seandainya jika hingga akhir masa kontrak masih hidup, Anda akan mendapatkan nilai tunai. Manfaat nilai tunai ini tidak ada dalam asuransi term life. Bahkan ada jenis whole life yang memberikan pengembalian tunai, yang disebut dividen atau bonus, jika tidak ada klaim selama periode tertentu.
Dengan kelebihan semacam itu, sangat wajar bila premi whole life lebih mahal dibandingkan produk term life. Jadi, kedua jenis asuransi jiwa ini punya plus dan minus. Tinggal Anda memutuskan mana yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan Anda.
Untuk membeli produk whole life, persyaratannya cukup mudah. Hanya dengan melampirkan dokumen pribadi, hasil cek kesehatan, dan membayar sejumlah premi, maka Anda sudah bisa mendapatkan perlindungan asuransi whole life.
Meski produk ini terbilang sederhana, ada beberapa hal yang harus Anda perhatikan dan pertimbangkan sebelum membeli produk asuransi whole life ini. Langkah pertama, pilih perusahaan asuransi yang menjual produk whole life dengan pengalaman operasional cukup lama dan terbukti mudah proses klaimnya. Pastikan, perusahaan itu berada di grup usaha terkemuka dan memiliki integritas tinggi.
Asuransi jiwa seumur hidup atau whole life sangat tepat bagi mereka yang membutuhkan perlindungan jangka panjang. Sebaiknya jangan campurkan produk ini dengan produk investasi (unitlink) karena return yang Anda harapkan tidak akan optimal.
Asuransi jiwa seumur hidup (whole life) merupakan salah satu jenis asuransi jiwa tradisional. Produk whole life memberikan dua jenis manfaat bagi pemiliknya. Pertama, perlindungan kematian hingga usia 99 tahun. Kedua, memberikan nilai tunai yang akan muncul pada usia pertanggungan yang kesekian. “Premi asuransi dapat dibayarkan dalam jangka waktu 5 tahun, 10 tahun, 15 tahun, dan 20 tahun.
Produk whole life sangat tepat bagi Anda yang membutuhkan perlindungan jangka panjang dengan cukup membayar premi untuk periode tertentu saja. Whole life juga cocok bagi Anda yang ingin mewariskan sejumlah uang untuk orang-orang terkasih.
Sedangkan produk asuransi lainnya seperti term life perlu diperbaharui dalam jangka waktu tertentu. “Umumnya apabila kontrak term life habis dan akan diperpanjang lagi, bisa jadi premi lebih besar atau justru Anda tidak bisa melanjutkan kontrak.”
Hal ini disebabkan karena, risiko kesehatan meningkat seiring dengan usia yang bertambah.
Apalagi, jika setelah cek kesehatan ulang ditemukan beberapa penyakit baru. Risiko ini kemudian ditransfer ke nilai premi yang lebih besar. Selain itu, asuransi whole life mempunyai manfaat lain seandainya jika hingga akhir masa kontrak masih hidup, Anda akan mendapatkan nilai tunai. Manfaat nilai tunai ini tidak ada dalam asuransi term life. Bahkan ada jenis whole life yang memberikan pengembalian tunai, yang disebut dividen atau bonus, jika tidak ada klaim selama periode tertentu.
Dengan kelebihan semacam itu, sangat wajar bila premi whole life lebih mahal dibandingkan produk term life. Jadi, kedua jenis asuransi jiwa ini punya plus dan minus. Tinggal Anda memutuskan mana yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan Anda.
Untuk membeli produk whole life, persyaratannya cukup mudah. Hanya dengan melampirkan dokumen pribadi, hasil cek kesehatan, dan membayar sejumlah premi, maka Anda sudah bisa mendapatkan perlindungan asuransi whole life.
Meski produk ini terbilang sederhana, ada beberapa hal yang harus Anda perhatikan dan pertimbangkan sebelum membeli produk asuransi whole life ini. Langkah pertama, pilih perusahaan asuransi yang menjual produk whole life dengan pengalaman operasional cukup lama dan terbukti mudah proses klaimnya. Pastikan, perusahaan itu berada di grup usaha terkemuka dan memiliki integritas tinggi.
“Langkah kedua, sesuaikan uang
pertanggungan yang diminta agar memadai dan berharga bagi orang terkasih
yang kita tinggalkan. Produk whole life ini punya kelemahan, yaitu uang
pertanggungannya tidak bisa ditambahi atau dikurangi. Lantaran kurang
fleksibel inilah maka uang pertanggungan penting untuk ditentukan sejak
awal, apakah cukup untuk kebutuhan keluarga Anda di masa yang akan
datang.
“Belilah saat muda karena preminya akan lebih ekonomis”.
Sebaiknya, jangan Anda mencampurkan produk whole life dengan investasi alias unit link insurance (unit link) sebab, return investasinya tidak optimal karena akan banyak biaya yang dibebankan oleh perusahaan asuransi. “Perusahaan asuransi akan memotong dana investasi sebagai biaya pengelolaan atau biaya lainnya”. Biasanya perusahaan asuransi ini menyerahkan pengelolaan dana tersebut ke pihak ketiga, seperti manajer investasi, yang secara otomatis biayanya juga dibebankan pada nasabah.
Generali Indonesia
Sejak awal pendiriannya, PT Asuransi Jiwa Generali Indonesia (Generali Indonesia) tidak memiliki asuransi whole life murni alias tradisional. Awalnya, perusahaan yang berpusat di Italia ini sangat mengandalkan produk employee benefit. Baru sekitar dua tahun ini, Generali mengembangkan produk asuransi berbalut investasi alias unit link. Pada semester II 2011 ini, Generali meluncurkan produk baru yang diklaim menjangkau semua segmen bernama iPLAN (Insurance Protection Linked Auto Navigation).
Premi yang ditawarkan mulai dari Rp. 500.000 per bulan. “Produk ini bisa dimiliki semua umur mulai usia 6 bulan hingga 65 tahun.” Perlindungan akan berakhir pada saat tertanggung berusia 99 tahun. Melalui produk ini, nasabah boleh mengkombinasikan dengan produk tambahan, misalnya jaminan penyakit kritis, cacat tetap dan permanen, dan biaya rumah sakit.
”iPLAN memilki keunikan yang tidak terdapat di perusahaan asuransi sejenis, yaitu memilki tambahan fasilitas ARMS (Auto Risk Management System). Dengan fasilitas ini, nasabah dapat meminimalkan kemungkinan kerugian dalam menginvestasikan premi yang sudah dibayar.”
Produk iPLAN dipasarkan oleh agen asuransi. Memang, sejak Juli lalu Generali telah resmi memasarkan produk ini melalui kanal-kanal keagenannya. Sebelumnya, Generali mengandalkan jalur bancassurance, tapi sampai dengan akhir 2011 Generali telah berhasil memiliki ± 3.000 AGENT.
“Belilah saat muda karena preminya akan lebih ekonomis”.
Sebaiknya, jangan Anda mencampurkan produk whole life dengan investasi alias unit link insurance (unit link) sebab, return investasinya tidak optimal karena akan banyak biaya yang dibebankan oleh perusahaan asuransi. “Perusahaan asuransi akan memotong dana investasi sebagai biaya pengelolaan atau biaya lainnya”. Biasanya perusahaan asuransi ini menyerahkan pengelolaan dana tersebut ke pihak ketiga, seperti manajer investasi, yang secara otomatis biayanya juga dibebankan pada nasabah.
Generali Indonesia
Sejak awal pendiriannya, PT Asuransi Jiwa Generali Indonesia (Generali Indonesia) tidak memiliki asuransi whole life murni alias tradisional. Awalnya, perusahaan yang berpusat di Italia ini sangat mengandalkan produk employee benefit. Baru sekitar dua tahun ini, Generali mengembangkan produk asuransi berbalut investasi alias unit link. Pada semester II 2011 ini, Generali meluncurkan produk baru yang diklaim menjangkau semua segmen bernama iPLAN (Insurance Protection Linked Auto Navigation).
Premi yang ditawarkan mulai dari Rp. 500.000 per bulan. “Produk ini bisa dimiliki semua umur mulai usia 6 bulan hingga 65 tahun.” Perlindungan akan berakhir pada saat tertanggung berusia 99 tahun. Melalui produk ini, nasabah boleh mengkombinasikan dengan produk tambahan, misalnya jaminan penyakit kritis, cacat tetap dan permanen, dan biaya rumah sakit.
”iPLAN memilki keunikan yang tidak terdapat di perusahaan asuransi sejenis, yaitu memilki tambahan fasilitas ARMS (Auto Risk Management System). Dengan fasilitas ini, nasabah dapat meminimalkan kemungkinan kerugian dalam menginvestasikan premi yang sudah dibayar.”
Produk iPLAN dipasarkan oleh agen asuransi. Memang, sejak Juli lalu Generali telah resmi memasarkan produk ini melalui kanal-kanal keagenannya. Sebelumnya, Generali mengandalkan jalur bancassurance, tapi sampai dengan akhir 2011 Generali telah berhasil memiliki ± 3.000 AGENT.
Langganan:
Postingan (Atom)















