visi & misi
Home » Posts filed under ARMS
Tampilkan postingan dengan label ARMS. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ARMS. Tampilkan semua postingan
Senin, 19 Oktober 2015
Selasa, 04 November 2014
ANGSA DAN TELUR EMASNYA
Sering bila saya bertanya kepada orang, apa tujuan Anda bekerja?
Dipastikan mereka menjawab 'untuk mendapatkan penghasilan' !!
Jadi
dasar utama dari perencanaan keuangan adalah income atau penghasilan.
Tanpa income maka tidak ada elemen yang lain. Namun ironisnya hanya
sedikit orang yang mengerti dan sadar bahwa income harus dilindungi dan
bahkan harus dipertahankan dari tahun ke tahun.
Banyak orang justru
berpikir bagaimana bekerja lebih keras, untuk mendapat ncome yang lebih
banyak. Memikirkan investasi, agar uangnya berkembang berlipat ganda.
Serta mencari peluang peluang baru untuk memperoleh income semaximal
mungkin. Inilah kesalahan yang cukup fatal dalam perencanaan keuangan.
Kalau kita melihat sebuah permainan
sepak bola tentunya tiap team berharap akan memenangkan pertandingan
dengan sebanyak mungkin menciptakan goal. Striker atau penyerang
tugasnya adalah merobek jala lawan. Setiap peluang harus diambil untuk
menciptakan goal. Bila seorang stiker dalam permainan tersebut bermain
jelek, tidak berhasil memasukkan bola pada gawang apakah berakibat
fatal? Tidak, karena mereka akan menunggu peluang lagi bila ada untuk
menciptakan goal. Namun bila seorang kiper bermain jelek, maka akibatnya
akan fatal!! gawangnya kebobolan, bisa dipastikan teamnya menuju
kekalahan. Kiper tidak boleh melakukan kesalahan.
Demikian juga dalam
perencanaan keuangan, striker atau penyerang adalah bagian dari
investasi atau bisnis. Bila investasi jelek masih ada kesempatan
berikutnya. Sedangkan kiper dalam hal ini adalah bagian yang menjaga
keamanan income. Dia tidak boleh melakukan kesalahan. Kesalahan kiper dalam perencanaan keuangan akan berakibat fatal pada keluarga tersebut.
Bila tidak punya kiper, maka income tidak ada yang melindungi.
Disinilah peran asuransi sebagai kiper yang menjaga gawang keuangan
keluarga.
Pada umumnya masyarakat hanya berpikir
tentang mendatangkan income dan kemudian bagaimana mengembangkan
incomenya agar berlipat ganda. Mereka tidak pernah memikirkan bagaimana
melindungi incomenya. Kalaupun mereka sempat memikirkannya, justru
melindungi income diletakkan bagian yang terakhir.
Kenyataan
banyak terjadi, sebagian orang mengalami musibah kehilangan income dan
kehilangan kemampuan untuk menghasilkan income secara permanen, pada
saat mereka berusaha mendatangkan income dan berinvestasi.
Dalam
perencanaan keuangan keluarga, melindungi income merupakan hal penting,
yang mendapat prioritas setelah mendatangkan income. Setelah itu baru
memikirkan bagaimana mengembangkan income atau berinvestasi.
Sering orang tidak mau melindungi incomenya dengan dasar pemikiran harus mengeluarkan uang. Mereka tidak rela seakan membuang uangnya untuk sesuatu yang tidak pasti.
Sering orang tidak mau melindungi incomenya dengan dasar pemikiran harus mengeluarkan uang. Mereka tidak rela seakan membuang uangnya untuk sesuatu yang tidak pasti.
Padahal untuk mendatangkan incomepun
seseorang harus mengeluarkan biaya. Bisa biaya produksi, biaya
pemasaran, untuk memulai usahanya, yang sesungguhnya juga belum
mendapatkan kepastian soal hasilnya. Demikian juga dalam berinvestasi
selalu ada biaya yang harus dibayarkan. Entah kepada Manager Investasi,
atau membayar pajak. Dimana semua investasi selalu mengandung resiko
seberapapun kecilnya. Maka hal yang wajar bila untuk melindungi income
juga harus mengeluarkan biaya semacam premi asuransi.
Apa yang menyebabkan seseorang bisa kehilangan income ?
Krisis
ekonomi yang kerap terjadi bisa mengurangi kemampuan seseorang
menghasilkan income, bahkan banyak yang kehilangan income secara
drastis. Namun situasi semacam ini masih bisa diatasi selama orang
tersebut masih sehat dan punya semangat kerja. Dia bisa memulai lagi dan
berjuang kembali untuk memperoleh income.
Sakit kritis dengan cepat bisa menghentikan income seseorang.
Bahkan menghabiskan uang yang telah dikumpulkan dengan susah payah.
Sering malah menjadi beban secara finansial bagi keluarganya. Situasi ini dari seorang penghasil income menjadi penghabis income.
Dan terakhir adalah kematian yang menghentikan income. Tuhan tidak pernah berunding ketika akan memanggilnya. Meninggal adalah sesuatu yang pasti. Namun yang tidak ada kepastian adalah waktunya.
Kematian seorang kepala keluarga berarti juga KEHILANGAN SUAMI, AYAH, dan PENGHASILAN !!
Dalam situasi di atas, tidak cara yang
lebih baik yaitu dengan mentranferkan resiko kepada pihak lain. Dan
mekanismenya hanya life insurance yang bisa menanggung resikonya, selama
kita memenuhi persyaratan. Karena untuk bisa mentranfer resiko kita ke
life insurance kita harus sehat. Bila saatnya kita membutuhkan - saat
sudah sakit- tidak ada life insurance yang mau menerima kita.
Sangatlah
wajar bila kita melindungi income kita, karena income sangat penting
bagi kita dan keluarga. Semua asset yang sudah diperoleh, mulai rumah,
mobil, deposito, emas, usaha, dibeli dan dibayar melaui income kita.
Sering
orang lebih melindungi aset aset nya daripada sumber incomenya. Banyak
mobil mewah diasuransikan, namun kadang pemiliknya tidak mempunyai
polis.
Bila ada Angsa yang bisa bertelur emas, dan Anda
hanya boleh memilih satu saja yang diasuransikan, mana yang Anda pilih,
Angsa atau Telurnya ?
Ya Anda pasti memilih Angsa nya yang
di asuransikan. Karena Angsa lebih berharga daripada telur emasnya.
Angsa itu setiap saat akan bertelur emas.
Ilustrasi ini mengatakan
setiap kita adalah angsa yang bertelor emas. Jadi prioritas pertama
dalam mengasuransikan adalah diri kita sendiri. Setelah itu barulah kita
melindungi aset aset kita.
Seperti halnya dalam sebuah bangunan, bagian terpenting adalah pondasi. Penampakan luar bukan tidak penting, namun tanpa pondasi yang kuat dan kokoh tidak ada gunanya keindahan bangunan.
Keindahan yang dibuat di bangunan tersebut membutuhkan biaya yang
mahal, dan menimbulkan banyak kerugian bila bangunannya hancur akibat
pondasi yang tidak diperhitungkan sehingga bangunan mengalami penurunan
dan roboh. Biaya pondasi tidak murah, bisa menghabiskan 20 - 30 % dari
keseluruhan biaya bangunan. Pondasi tidak indah, tidak menarik, bahkan
tidak kelihatan. Orang yang mendiami bangunanpun tidak bisa bisa
merasakan manfaatnya secara langsung. Tetapi pondasi harus tetap ada,
tidak bisa asal asalan, dan materialnya tidak bisa menggunakan yang
murahan. Namun membutuhkan perhitungan khusus.
APAKAH ANDA SUDAH MEMILIKI PONDASI YANG KOKOH UNTUK PERENCANAAN KEUANGAN ANDA?
konsultant keuangan
GENERALI INDONESIA
HERIANSYAH PUTRA
081370434433
PIN: 51F5B8ED
Sabtu, 04 Oktober 2014
Minggu, 08 Juni 2014
TAUKAH ANDA CARA KERJA UNITLINK, BENARKAH HANYA MENABUNG 10 TAHUN, DIJAMIN SEUMUR HIDUP?
Sahabat, tahukah anda mengapa Agen Asuransi meminta nasabah Asuransi Unit Link membayar Premi selama 10 tahun?
Dan kenyataannya yang telah berjalan, ketika nasabah sudah membayar asuransi selama 10 tahun namun masih mendapat surat harus tetap membayar lagi?
Dari Gambar di atas sangat Jelas CARA KERJA UNIT LINK. Untuk masuk Produk Unit Link bisa dilakukan dengan dua cara yaitu :
1. Semua Premi di alokasikan ke Proteksi Asuransi.
2. Dari Premi di bagi dua bagian : Proteksi Asuransi dan Tabungan Investasi.
Khusus di Generali hanya bisa di lakukan dengan cara yang ke dua, yaitu sebagian Premi di gunakan untuk Proteksi Asuransi dan sebagian premi di gunakan untuk Tabungan Investasi agar Nasabah Generali jangka panjang memiliki Investasi yang baik sehingga cukup untuk membiayai Biaya-biaya asuransi yang di bebankan seumur hidup kepada Nasabah.
Pada umumnya Dari Premi yang di Bayarkan nasabah akan di kenakan biaya Akuisisi selama 5 tahun seperti dalam gambar pertama bagian A (biaya Akuisisi Polis) dan biaya akuisisi tersebut di luar dari biaya Asuransi, Biaya Administrasi dan biaya - biaya lainnya.
Jika kita perhatikan biaya akuisisi tahun ke 3,4 dan 5 hanya 15%, dan di pikiran nasabah sisa dari 15 % adalah 85% semua di masukan ke Tabungan Investasi, Namun kenyataannya dari sisa yang 85% tersebut harus di gunakan untuk membiayai biaya asuransi yang terhutang di tahun pertama dan kedua di tambah biaya asuransi yang berjalan setelah itu sisanya itulah yang di gunakan untuk Investasi.
Begitu halnya di Tahun ke 6 sudah tidak ada biaya Akuisisi namun BIAYA ASURANSI tetap harus di bayar seumur hidup / sampai manfaat berakhir, sisanya itulah yang di Gunakan untuk Investasi dengan Tujuan untuk Biaya Pendidikan Anak dan Pensiun + membayar biaya asuransi seumur hidup.
Unit Link di bagi dua bagian yaitu Proteksi dan Tabungan Investasi.
Semakin banyak Proteksi yang di ambil nasabah maka semakin besar biaya Asuransi yang di bebankan dan harus tetap di bayar sampai manfaat berkahir atau seumur Hidup nasabah.
Sedangkan Tabungan Investasi Unit link di Kembangkan di Pasar Uang seperti Saham, Obligasi dan Deposito. Kita pasti tahu bahwa yang namanya Investasi Saham bisa Naik dan bisa juga turun. Kalau Investasi naik maka semua orang tahu bahwa uang yang di simpan akan berkembang dan untung, namun di Indonesia yang namanya saham bisa juga turun.
Sejarah menunjukan bahwa dalam 20 tahun terakhir ini kondisi Ekonomi dunia dan indonesia sudah terjadi beberapa kali Krisis dan itu sangat berdampak terhadap Investasi unit Link.
Kisah yang masih sangat segar di Ingatan saya di tahun 2008 terjadi Krisis Global dan harga saham unit link anjlok hingga 50% lebih sehingga dana nasabah di tahun 2008 banyak yang Hilang terutama bagi nasabah yang menarik dana di waktu itu dengan alasan membutuhkan dana atau karena takut lebih rugi lagi jika di biarkan dana tersebut.
Kisah yang masih sangat segar di Ingatan saya di tahun 2008 terjadi Krisis Global dan harga saham unit link anjlok hingga 50% lebih sehingga dana nasabah di tahun 2008 banyak yang Hilang terutama bagi nasabah yang menarik dana di waktu itu dengan alasan membutuhkan dana atau karena takut lebih rugi lagi jika di biarkan dana tersebut.
Kisah tahun 2008 itu bukan tidak mungkin akan terjadi lagi di Indonesia dan mungkin bisa lebih buruk dari tahun 2008, lalu bagaimana dengan nasib nasabah yang ingin menggunakan dananya untuk Pendidikan anaknya dan Pensiun?
Apakah Impiannya akan bisa benar - benar terwujud atau hanya menjadi Impian Belaka? karena setelah nasabah membayar Premi 10 tahun seperti yang di janjikan agen, ternyata nasabah harus tetap membayar BIAYA ASURANSI SEUMUR HIDUP.
Anda bisa bayangkan jika sahabat memiliki POLIS, setelah 10 tahun apakah dana yang tersimpan cukup untuk membayar biaya asuransi seumur hidup? Jika saham turun / anjlok dan biaya terus di potong dalam bentuk unit yang terbentuk di potong dan terus di potong sedang nasabah tidak membayar premi lagi.
Jika Dana terus berkurang dan Habis maka POLIS asuransi akan tidak berfungsi atau LAPSE bahasa asuransinya. Sebesar apapun nama Perusahaannya, Sehebat apapun produk asuransinya itu tidak ada artinya untuk nasabah jika Polisnya sudah Lapse / tidak aktif.
Dengan Kondisi tersebut di butuhkan Solusi Cerdas yang berpihak untuk keuntungan nasabah. Dan Solusi itu hanya ada di GENERALI, sejak pertama kali masuk menjadi nasabah, Generali memiliki REM INVESTASI yang bernama ARMS yang sudah di Hak Patenkan selama 20 tahun (artinya perusahaan lain selain Generali tidak bisa menggunakan sistem ini sampai 20 tahun kedepan).
Jadi, Nasabah Generali sejak awal sudah bisa membatasi kerugian dengan fitur CUT LOSS dan tidak membatasi Keuntungan dengan Fitur Profit Climbing. Kelak nasabah akan Puas, Nyaman, Aman dan Investasi yang menguntungkan sehingga Polis terbebas dari LAPSE walau hanya bayar premi 10 tahun.
GENERALI memang BERBEDA dengan Perusahaan asuransi lainnya.
Kebanyakan Nasabah asuransi tidak memahami cara kerja Unit Link yang sebenarnya, karena jika Agen menjelaskan secara detail cara kerja Unit Link di kwatirkan nasabah tidak jadi membeli asuransi karena Resiko yang harus di hadapin invetasi Unit Link.
Padahal menurut saya nasabah WAJIB mengetahuinya sehingga tidak terjadi komplain dibelakang hari yang mengakibatkan nasabah merasa di tipu atau ada yang di sembunyikan. Namun di pahami mengapa agen asuransi secara umum tidak menjelaskan itu dikarena tidak ada solusi dari masalah tersebut. Selama ini perusahaan asuransi tidak memiliki Solusi yang di hadapi produk Unit Link
Dalam berinvestasi di pasar modal, investor dihadapkan pada kondisi ketidakpastian. Pergerakan naik turunnya harga pasar yang tinggi dan tidak diharapkan dapat terjadi sewaktu-waktu.
Gejolak perekonomian di dalam maupun di luar negeri dapat menimbulkan pengaruh yang besar pada pergerakan harga di pasar modal. Selain itu, sentimen para investor juga mempengaruhi pergerakan harga di pasar modal.
Gejolak harga yang terjadi di pasar modal merupakan risiko yang mau tidak mau harus dihadapi para investor. Bila tidak ditangani dengan tepat dan cermat, investasi akan mengalami kerugian. Jika penurunan nilai investasi terjadi saat dana masih lama dibutuhkan, maka masih terdapat banyak waktu untuk memulihkan nilai aset yang dimiliki.
Namun, apabila krisis terjadi saat menjelang dana dibutuhkan, maka risiko akan sangat sulit untuk dikendalikan. Bila tidak dikelola dengan tepat, kerugian akan menjadi hasil akhir dari investasi yang dilakukan.
Yang selanjutnya menjadi masalah, dalam mengelola investasinya, investor juga dihadapkan pada berbagai keterbatasan. Salah satu keterbatasan yang dimilikinya adalah emosi sebagai manusia. Investor cenderung untuk membeli saat harga di pasar modal tengah meningkat.
Dalam hal ini, ketika harga tengah meningkat, sifat manusiawi mendorongnya untuk berinvestasi karena bayangan akan keuntungan yang dapat diperolehnya. Emosi pula yang menyebabkan investor justru keluar dari pasar dan menjual aset investasinya saat harga tengah menurun karena rasa takut bahwa harga akan terusmenerus merosot.
Bahkan setelah keluar dari pasar, pengalaman akan kerugian ini menyebabkan investor merasa takut untuk kembali berinvestasi dalam jangka waktu lama. Saat ia memutuskan untuk kembali berinvestasi, harga telah berada di tingkat yang lebih tinggi.
Contoh lainnya adalah ketika investor tengah mengalami peningkatan harga dari aset investasi yang dimilikinya, sifat yang tidak pernah puas menyebabkan ia menunda untuk segera merealisasikan keuntungan dengan menjual asetnya tersebut.
Yang terjadi selanjutnya, harga justru sudah kembali turun dan ia terlambat untuk menikmati keuntungan dari investasinya. Jelaslah bahwa rasa takut dan tidak pernah puas. seringkali menyebabkan investor membuat keputusan yang terburu-buru, atau sebaliknya, malah menunda keputusan.
Keterbatasan-keterbatasan lain yang dimiliki investor adalah ketiadaan waktu dan akses untuk selalu memonitor pergerakan harga di pasar modal.
Untuk itu, diperlukan suatu sistem yang dapat membantu investor dalam mengelola risiko tersebut. Sistem ini harus dapat selalu memantau pergerakan harga, berjalan secara otomatis, dan tidak terpengaruh oleh emosi manusia.
ARMS sebagai Jawabannya...
Untuk menjawab kebutuhan investor dalam pengelolaan risiko investasi, Generali Indonesia telah menciptakan sistem manajemen risiko yang berjalan secara otomatis.
Sistem ini disebut Auto Risks Management System (ARMS). ARMS memadukan berbagai metode manajemen risiko yang dijalankan secara otomatis (Komputerisasi / robotik). Dalam hal ini, metode yang dimaksud terdiri dari :
Auto Balancing
Auto Trading
Auto Re-entry Bounce Back
Auto Balancing
Auto Balancing merupakan fitur yang berfungsi untuk menjaga komposisi Aset Portofolio Investasi sesuai dengan profil risiko yang dimiliki investor secara otomatis dan konsisten dari waktu ke waktu. Ini dilakukan melalui proses jual beli aset saat komposisi tipe aset dalam portofolio investasi tidak sesuai dengan komposisi yang telah ditetapkan sebelumnya oleh investor.
Yang menarik, dengan Auto Balancing, investor secara konsisten akan membeli aset tertentu saat harganya rendah dan menjual aset tertentu saat harganya tinggi sehingga imbal hasil investasi yang diperoleh juga akan meningkat.
Atau, dengan kata lain prinsipBuy Low-Sell High terjadi secara konsisten. Hal ini dilakukan dengan cara menjual aset yang kinerjanya lebih baik (outperforming asset) dan membeli aset yang kinerjanya lebih rendah(underperforming asset) secara bersamaan pada saat terjadi perubahan komposisi tipe aset yang tidak diinginkan.
Dengan Auto Balancing, pergerakan harga masing-masing aset investasi akan dipantau setiap hari dan proses di atas akan dilakukan sesuai dengan batas toleransi yang diinginkan investor secara konsisten dan terus menerus.
Auto Trading
Auto Trading merupakan fitur yang berfungsi untuk memantau dan menjaga kinerja portofolio investasi agar konsisten dengan tujuan investasi yang dimiliki investor secara otomatis dari waktu ke waktu. Dalam berinvestasi, setelah mencapai target pengembangan dana investasi, investor harus merealisasikan keuntungannya (profit taking).
Sebaliknya, saat terjadi penurunan dana investasi melebihi batas yang dapat ditoleransi, investor harus segera keluar dari pasar untuk mencegah kerugian lebih jauh (cut loss). Dengan Auto Trading, proses realisasi keuntungan atau mencegah kerugian ini berjalan secara otomatis
Pengembangan Lebih Lanjut dari Auto Trading:
- Profit Climbing
Dalam perkembangan selanjutnya, sebagai alternatif dari Profit Taking, Auto Trading memiliki fitur Profit Climbing yang digunakan untuk membantu investor agar tidak merealisasikan keuntungannya terlalu dini di saat pasar investasi masih dapat terus tumbuh.
Konsep ini dapat dianalogikan dengan seseorang yang sedang menaiki tangga di mana pada setiap anak tangganya disiapkan jaring pengaman. Orang ini dapat terus menaiki tangga tanpa henti tanpa harus takut jatuh. Saat orang ini jatuh dari anak tangga manapun, jaring pengaman telah tersedia sehingga ia tidak jatuh jauh ke dasar lantai.
- Auto-Re-entry
Auto Re-entry adalah fitur di dalam Auto Trading yang berfungsi untuk menginvestasikan kembali seluruh hasil investasi yang telah direalisasikan dan/atau diamankan secara otomatis dan sesuai dengan profil risiko dan tujuan investasi yang dimiliki investor.
Setelah keluar dari pasar, baik karena realisasi keuntungan atau menghindari kerugian lebih jauh, investor harus menentukan kapan ia akan kembali berinvestasi. Momen terbaik untuk masuk kembali adalah saat harga instrumen investasi (yang dimiliki investor sebelum keluar dari pasar) lebih murah.
Setelah keluar dari pasar, baik karena realisasi keuntungan atau menghindari kerugian lebih jauh, investor harus menentukan kapan ia akan kembali berinvestasi. Momen terbaik untuk masuk kembali adalah saat harga instrumen investasi (yang dimiliki investor sebelum keluar dari pasar) lebih murah.
Hal ini dilakukan dengan mengawasi perkembangan harga di pasar setelah investor keluar dari pasar. Bila harganya turun lebih lanjut hingga mencapai titik yang telah ditetapkan, investor sebaiknya kembali berinvestasi seperti sediakala. Dengan Auto Re-entry, proses berinvestasi kembali ini berjalan secara otomatis.
- Bounce Back
Bounce Back merupakan fitur pada fasilitas investasi yang berfungsi untuk mengalokasikan kembali Nilai Investasi yang telah direalisasikan dan/atau diamankan secara otomatis melalui fitur Auto Trading, pada alokasi Jenis Dana Investasi yang ditentukan oleh nasabah, dalam suatu periode dan parameter tertentu yang ditentukan oleh Generali Indonesia.
Fungsi fitur Bounce Back hampir sama dengan fitur Auto Re-Entry, perbedaannya terletak pada parameter pengalokasian kembali nilai investasi, dimana Auto Re-Entry menggunakan parameter yang ditentukan oleh nasabah, sementara Bounce Back menggunakan parameter tertentu yang ditentukan oleh Generali Indonesia dengan menggunakan sistem dan tim investasi professional yang dimilikinya.
Dalam hal ini, saat parameter ini menghasilkan sinyal yang menunjukkan bahwa harga pasar investasi telah memasuki tren peningkatan, maka dana investasi akan kembali dialokasikan sesuai dengan komposisi sebelum Auto Trading terpicu.
Semoga posting ini bisa bermanfaat untuk sahabat Indonesia, silakan sahabat Cek & Ricek POLIS yang ada di rumah sahabat, apakah Polis tersebut sudah memiliki PENGAMAN INVESTASI UNIT LINK?
Jika jawabannya belum ada, jangan sampai terlambat. Sejak sekarang perbaiki Polis anda dan saya siap membantu sahabat dalam merencanakan Keuangan keluarga demi masa depan yang CEMERLANG.
Keputusan kita hari ini akan menentukan masa depan keluarga kita. Jangan tunda lagi.sekarang juga pastikan POLIS sahabat memiliki ARMS.
Selasa, 13 Mei 2014
PERFORMANCE GENERALI INDONESIA BERDASARKAN MAJALAH INFO BANK 2013.
Perfomance Generali Indonesia berdasarkan majalah INFO BANK 2013.
1. Generali Indonesia melonjak masuk ke Peringkat 8 dari Kelompok
Asuransi dgn Premi Bruto 200 Milyar sd 1 Triliun di tahun 2011-2012 (
periode tahun Lalu (2010-2011) Generali berada di Peringkat 7 pada
kelompok Premi Bruto dibawah 200 M).
2. RBC (Risk Based Capital) meningkat menjadi 381%. Sangat Bagus. Kemampuan bayar Klaim
3. Sampai dengan Juni 2013 kami sudah membukukan Premi 880 Milyar dan kami perkirakan sd Akhir Tahun ini tembus 1 Triliun.
Tahun depan kami akan masuk di kelompok Perusahaan dgn Premi Bruto diatas 1 Triliun.
Ini semua berkat kerjasama yang dahsyat seluruh agent generali kami, dan tentunya kepercayaan Seluruh Nasabah.
Generali baru 2 tahun memulai Bisnis Agency di Indonesia, kami adalah bayi singa yang baru lahir di Indonesia, tapi kami Punya Keyakinan sangat Kuat.
Dengan 2 Kekuatan Sayap kami (ARMS dan 757).
Singa ini akan Menjadi Dewasa dan TERBANG Bersama seluruh Team dan nasabah di Indonesia.
Salam Sejahtera
CEO Generali Indonesia
CEO Generali Indonesia
Selasa, 01 April 2014
Sabtu, 15 Maret 2014
GENERALI CLAIM PUNYA ALAT PENANGKAL UNITLINK
JAKARTA, KOMPAS.com - Gejolak pasar modal tanah air
belum juga berakhir. Kondisi ini otomatis memukul perolehan hasil
investasi pasar modal khususnya unitlink. Membaca ini, demi
meminimalisir kerugian, PT Asuransi Generali Indonesia (Generali Indonesia) menawarkan teknologi yang bisa mengamankan keranjang investasi nasabah.
Layanan yang ditawarkan adalah sistem auto risk management system (ARMS). Ini adalah sistem perlindungan nasabah di mana saat pasar modal turun secara otomatis keranjang investasi dipindahkan ke tempat lebih aman.
"Portofolio nasabah harus aman. Sistem ini membuat nasabah lebih leluasa untuk mengatur sendiri asset investasinya sesuai dengan profil resiko," kata Edy Tuhirman, Direktur Utama Generali Indonesia pada Kamis (26/9).
Melalui sistem ARMS ini, Edy mengakui perolehan premi Generali Indonesia terkerek. Sepanjang kuartal 1 2013, premi mencapai Rp 826 miliar naik 251% dari Rp 235 miliar. (Mona Tobing)
Layanan yang ditawarkan adalah sistem auto risk management system (ARMS). Ini adalah sistem perlindungan nasabah di mana saat pasar modal turun secara otomatis keranjang investasi dipindahkan ke tempat lebih aman.
"Portofolio nasabah harus aman. Sistem ini membuat nasabah lebih leluasa untuk mengatur sendiri asset investasinya sesuai dengan profil resiko," kata Edy Tuhirman, Direktur Utama Generali Indonesia pada Kamis (26/9).
Melalui sistem ARMS ini, Edy mengakui perolehan premi Generali Indonesia terkerek. Sepanjang kuartal 1 2013, premi mencapai Rp 826 miliar naik 251% dari Rp 235 miliar. (Mona Tobing)
Sumber : http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2013/09/26/1603074/Generali.Klaim.Punya.Alat.Penangkal.Kerugian.Unit-linked
Kamis, 27 Februari 2014
INVESTASI JUGA BUTUH REM DAN PERSNELING
Untuk memberi rasa aman kepada nasabahnya (pemegang polis) dalam urusan investasi, Generali Indonesia mengembangkan sistem otomatis untuk memantau investasi nasabah yang disebut Auto Risk Management System.
Apa saja manfaatnya?
The future can’t be predicted. Oleh karena itulah, berkembang produk asuransi. Namun, sebagai sebuah skema investasi, bukan berarti orang yang berasuransi bebas dari rasa khawatir. Sebab, portofolio investasi yang dijalankan perusahaan asuransi pun tak lepas dari risiko.
Nah, demi memberikan rasa aman lebih besar kepada nasabahnya dalam berinvestasi, PT Asuransi Jiwa Generali Indonesia mengembangkan sebuah sistem otomatis. Dengannya, para pemegang polisnya bisa mengelola prospek keuntungan dan risiko kerugian dengan lebih baik. Sistemnya ini disebut Auto Risk Management System (ARMS).
Edy Tuhirman, CEO Generali Indonesia, menjelaskan bahwa dalam asuransi selalu ada dua komponen: proteksi dan investasi. Untuk proteksi Generali menyediakan berbagai program perlindungan, seperti family protection plan, perlindungan cacat tetap, kebutuhan rumah sakit dan pembedahan, melahirkan, rawat jalan hingga perawatan gigi. “Generali menyediakan perlindungan menyeluruh untuk seluruh anggota keluarga,” ucap Edy.
Bagaimana dari sisi investasi? Menurut Edy, investasi ini seperti menyetir mobil, sehingga perlu rem, setir, persneling, dan sebagainya. Sebab, jika tak dilengkapi, bisa jadi investasinya anjlok. Misalnya, seseorang yang telah mempersiapkan masa pensiunnya dengan membeli produk asuransi. Diperkirakan, pada waktu tertentu ketika ia mempersiapkan masa pensiun, nilai investasinya mencapai Rp 1 miliar. Akan tetapi, tiba-tiba pasar modal ambruk. Nilai investasi orang tadi turun tinggal hanya – misalnya — Rp 200 juta. “Berinvestasi layaknya mengendarai mobil, yang memerlukan instrumen keselamatan semacam rem untuk mengatur risiko. Sebab, tak ada yang mampu memprediksi dan menjamin pasar modal akan bebas dari bahaya,” ujar Edy.
Menurut Edy, ARMS bisa menjadi solusinya. Ia mengklaim, solusi ARMS ini merupakan yang pertama di Indonesia. Apa itu ARMS? Pada dasarnya ini adalah sistem otomatis untuk memantau investasi nasabah. Jadi, dengan adanya ARMS, nasabah dapat menentukan level untuk mengambil untung dan level aman agar tak merugi besar (cut loss). Nasabah tak perlu lagi memantau pasar saham dan pasar uang setiap hari, karena ARMS yang melakukan secara otomatis. “Ide pengembangan ARMS ini terinspirasi pengalaman beberapa investor saat terjadinya krisis finansial tahun 2008, ketika kondisi pasar di seluruh dunia anjlok,” ungkap Edy.
Bertolak dari pemikiran tersebut, pada awal 2009 tim TI Generali Indonesia mengembangkan ARMS. Menurut Rommy Rukyanto, CIO Generali Indonesia, solusi ARMS dikembangkan di atas core system Life/Asia. “ARMS kami kembangkan sendiri, dengan dibantu konsultan TI. Aplikasi ARMS terhubung dengan aplikasi lainnya menggunakan interface,” ucap Rommy. “Investasinya sangat besar. Tetapi kami mendapat dukungan penuh dari kantor pusat,” Edy menambahkan.
Dijelaskan Rommy, ada beberapa modul dalam ARMS.
Nah, demi memberikan rasa aman lebih besar kepada nasabahnya dalam berinvestasi, PT Asuransi Jiwa Generali Indonesia mengembangkan sebuah sistem otomatis. Dengannya, para pemegang polisnya bisa mengelola prospek keuntungan dan risiko kerugian dengan lebih baik. Sistemnya ini disebut Auto Risk Management System (ARMS).
Edy Tuhirman, CEO Generali Indonesia, menjelaskan bahwa dalam asuransi selalu ada dua komponen: proteksi dan investasi. Untuk proteksi Generali menyediakan berbagai program perlindungan, seperti family protection plan, perlindungan cacat tetap, kebutuhan rumah sakit dan pembedahan, melahirkan, rawat jalan hingga perawatan gigi. “Generali menyediakan perlindungan menyeluruh untuk seluruh anggota keluarga,” ucap Edy.
Bagaimana dari sisi investasi? Menurut Edy, investasi ini seperti menyetir mobil, sehingga perlu rem, setir, persneling, dan sebagainya. Sebab, jika tak dilengkapi, bisa jadi investasinya anjlok. Misalnya, seseorang yang telah mempersiapkan masa pensiunnya dengan membeli produk asuransi. Diperkirakan, pada waktu tertentu ketika ia mempersiapkan masa pensiun, nilai investasinya mencapai Rp 1 miliar. Akan tetapi, tiba-tiba pasar modal ambruk. Nilai investasi orang tadi turun tinggal hanya – misalnya — Rp 200 juta. “Berinvestasi layaknya mengendarai mobil, yang memerlukan instrumen keselamatan semacam rem untuk mengatur risiko. Sebab, tak ada yang mampu memprediksi dan menjamin pasar modal akan bebas dari bahaya,” ujar Edy.
Menurut Edy, ARMS bisa menjadi solusinya. Ia mengklaim, solusi ARMS ini merupakan yang pertama di Indonesia. Apa itu ARMS? Pada dasarnya ini adalah sistem otomatis untuk memantau investasi nasabah. Jadi, dengan adanya ARMS, nasabah dapat menentukan level untuk mengambil untung dan level aman agar tak merugi besar (cut loss). Nasabah tak perlu lagi memantau pasar saham dan pasar uang setiap hari, karena ARMS yang melakukan secara otomatis. “Ide pengembangan ARMS ini terinspirasi pengalaman beberapa investor saat terjadinya krisis finansial tahun 2008, ketika kondisi pasar di seluruh dunia anjlok,” ungkap Edy.
Bertolak dari pemikiran tersebut, pada awal 2009 tim TI Generali Indonesia mengembangkan ARMS. Menurut Rommy Rukyanto, CIO Generali Indonesia, solusi ARMS dikembangkan di atas core system Life/Asia. “ARMS kami kembangkan sendiri, dengan dibantu konsultan TI. Aplikasi ARMS terhubung dengan aplikasi lainnya menggunakan interface,” ucap Rommy. “Investasinya sangat besar. Tetapi kami mendapat dukungan penuh dari kantor pusat,” Edy menambahkan.
Dijelaskan Rommy, ada beberapa modul dalam ARMS.
Pertama, Automatic Trading Plan, merupakan fitur dalam berinvestasi, yaitu untuk mencapai target pengembangan dana investasi pada titik tertentu untuk meraih keuntungan (profit taking) atau menghindari terjadinya penurunan kerugian investasi lebih jauh (cut loss). Modul ini diibaratkan dengan sistem rem dalam menjaga investasi agar tidak melewati batas kerugian yang dapat ditolerir. Di sini, nasabah bisa menentukan sendiri nilai profit yang ingin dicapai dan nilai toleransi kerugian yang mampu ditanggung.
Modul kedua, Automatic Asset Rebalancing, merupakan fitur untuk menyeimbangkan komposisi alokasi dana investasi investor sehingga tetap berada dalam batas toleransi yang telah ditetapkannya. Modul Auto Balancing diibaratkan sebagai setir atau cruise control yang bekerja untuk menjaga pergerakan investasi selalu dalam profil risiko yang sudah ditetapkan. Jadi, modul ini mampu menjaga pergerakan portofolio investasi nasabah tetap stabil dan sesuai dengan yang ditentukan.
Ketiga, modul Automatic Re-entry, merupakan fitur penentuan momentum bagi investor untuk kembali berinvestasi dengan alokasi masing-masing dana investasi sesuai dengan yang ditetapkan investor. Modul Auto Re-entry diibaratkan sebagai persneling otomatis (automatic gear) yang membantu mendeteksi saat yang tepat untuk kembali ke pasar. Dengan modul ini, nasabah secara otomatis dimungkinkan untuk menentukan waktu yang tepat untuk kembali berinvestasi di pasar modal, ketika kondisi pasar sudah mencapai titik yang dikehendaki.
“Sekarang, kami juga memiliki sebuah portal yang dapat digunakan oleh nasabah Generali Indonesia untuk memantau maupun mendapatkan informasi detail dari polis mereka,” ujar Rommy.
Modul-modul ARMS
Automatic Trading Plan, fitur investasi untuk mencapai target pengembangan dana investasi pada suatu titik tertentu guna meraih keuntungan (profit taking) atau menghindari terjadinya kerugian lebih jauh (cut loss).
Automatic Asset Rebalancing, fitur untuk menyeimbangkan komposisi alokasi dana investasi investor sehingga tetap berada dalam batas toleransi yang telah ditetapkannya.
Automatic Re-entry, fitur penentuan momentum bagi investor untuk kembali berinvestasi dengan alokasi masing-masing dana investasi sesuai dengan yang ditetapkan investor.
Menurut Edy, by nature seorang investor memiliki karakteristik greedy atau penakut. Namun, ARMS membuat nasabah bisa disiplin. Ia menggambarkan contoh seorang investor tamak yang menempatkan modal Rp 100 juta, lalu nilainya naik menjadi Rp 150 juta. Nah, ketika ditawarkan diambil atau tidak, ia tidak mau ambil karena diperkirakan masih bisa naik lagi. Namun, ternyata pasar goyang sehingga modalnya hanya tinggal Rp 60 juta.
“Ketamakan dan ketakutan investor ini bisa terjadi di tempat lain, karena tidak punya disiplin. Di Generali ada disiplin, seperti Auto Trading Plan,” ucap Edy. Misalnya, seorang investor masuk dengan modal Rp 100 juta. Sebelumnya, investor telah membuat persetujuan dengan planner: ia akan take profit jika naik 40%, dan cut loss jika minus 10%. Lalu, ia mendapat untung 20%, naik lagi menjadi 30%. Akan tetapi, sistem belum merespons. Nah, ketika keuntungannya naik 40% menjadi Rp 150 juta, sistem secara otomatis akan mengunci untuk ambil keuntungan. Sebaliknya, ketika modalnya turun menjadi Rp 90 juta, sistem langsung melakukan cut loss, untuk dipindahkan ke money market supaya tidak kebablasan.
“Bagaimana caranya? Sistem TI yang melakukan monitoring setiap hari. Ketika sampai pada angka tertentu yang disepakati, sistem secara otomatis akan mengunci dan melakukan switching,” ujar Edy. “Jadi, setiap nasabah tidak perlu memantau pasar saham dan pasar uang setiap hari. Biarkan sistem kami yang bekerja.”
Menurut Edy, pengembangan ARMS telah memberikan beberapa manfaat, baik kepada nasabah maupun perusahaan. Manfaat paling utama dari ARMS adalah memberikan perasaan aman bagi nasabah dan keleluasaan dalam merancang perjalanan finansial. “Oleh karena merasa aman, impact-nya orang jadi lebih berani berinvestasi, sehingga return lebih tinggi. Investasi jangka panjang jadi lebih bagus,” ujar Edy. “Bagi perusahaan, dengan adanya ARMS ini, cost jadi lebih murah, sehingga jauh lebih efisien,” tambahnya.
Klaim Edy diamini salah satu nasabahnya, Ariyanto Erlangga. Menurut pria berumur 43 tahun yang telah menjadi nasabah Generali sejak April 2011 ini, ARMS yang dikembangkan Generali sangat membantu. Sebab, selama ini ia menjadi pemegang polis dari beberapa perusahaan asuransi, tetapi tidak ada yang memiliki “sistem rem” seperti ARMS di Generali. Akibatnya, kalau saham anjlok, investasi juga menurun. “Saat ini saya tidak takut lagi dalam berinvestasi,” ucap Ariyanto. “Tetapi, perlu sosialisasi secara detail agar kita semua lebih tahu kegunaan ARMS,” tambah Ariyanto menyarankan.
Baik Edy maupun Rommy sepakat bahwa ARMS baru langkah pertama Generali untuk memberikan pelayanan dan perlindungan kepada nasabahnya. “Masih banyak rencana yang akan dikembangkan ke depannya. The ultimate goal kami adalah ingin memberikan proteksi kepada nasabah,” ujar Edy.
“Perencanaan TI selanjutnya adalah bisa menjadi business driver dibanding hanya menjadi sekadar business support maupun business enabler,” kata Rommy menambahkan. (*)
Tentang Generali Indonesia
Generali merupakan perusahaan asuransi dan keuangan global, yang berada di bawah Assicurazioni Generali di Italia. Generali didirikan pada 1831 di Trieste, Italia. Masuk ke Indonesia pada awal 2008.
Untuk memasarkan produknya, Generali telah menjalin kerja sama (sebagai produk bancassurance) dengan DBS Indonesia Bank, menawarkan produk Unit Link dengan Auto Risk Management System yang dinamakan iDARE – insurance Dynamic Asset Rebalancing. Juga, dengan ANZ Bank, menawarkan produk asuransi jiwa berbentuk UnitLink dengan pembayaran premi tunggal yang menawarkan alokasi fleksibel antara investasi dan perlindungan jiwa yang sesuai dengan kebutuhan, yang disebut Ultimate Balance Protection (UB Pro).
Modul kedua, Automatic Asset Rebalancing, merupakan fitur untuk menyeimbangkan komposisi alokasi dana investasi investor sehingga tetap berada dalam batas toleransi yang telah ditetapkannya. Modul Auto Balancing diibaratkan sebagai setir atau cruise control yang bekerja untuk menjaga pergerakan investasi selalu dalam profil risiko yang sudah ditetapkan. Jadi, modul ini mampu menjaga pergerakan portofolio investasi nasabah tetap stabil dan sesuai dengan yang ditentukan.
Ketiga, modul Automatic Re-entry, merupakan fitur penentuan momentum bagi investor untuk kembali berinvestasi dengan alokasi masing-masing dana investasi sesuai dengan yang ditetapkan investor. Modul Auto Re-entry diibaratkan sebagai persneling otomatis (automatic gear) yang membantu mendeteksi saat yang tepat untuk kembali ke pasar. Dengan modul ini, nasabah secara otomatis dimungkinkan untuk menentukan waktu yang tepat untuk kembali berinvestasi di pasar modal, ketika kondisi pasar sudah mencapai titik yang dikehendaki.
“Sekarang, kami juga memiliki sebuah portal yang dapat digunakan oleh nasabah Generali Indonesia untuk memantau maupun mendapatkan informasi detail dari polis mereka,” ujar Rommy.
Modul-modul ARMS
Automatic Trading Plan, fitur investasi untuk mencapai target pengembangan dana investasi pada suatu titik tertentu guna meraih keuntungan (profit taking) atau menghindari terjadinya kerugian lebih jauh (cut loss).
Automatic Asset Rebalancing, fitur untuk menyeimbangkan komposisi alokasi dana investasi investor sehingga tetap berada dalam batas toleransi yang telah ditetapkannya.
Automatic Re-entry, fitur penentuan momentum bagi investor untuk kembali berinvestasi dengan alokasi masing-masing dana investasi sesuai dengan yang ditetapkan investor.
Menurut Edy, by nature seorang investor memiliki karakteristik greedy atau penakut. Namun, ARMS membuat nasabah bisa disiplin. Ia menggambarkan contoh seorang investor tamak yang menempatkan modal Rp 100 juta, lalu nilainya naik menjadi Rp 150 juta. Nah, ketika ditawarkan diambil atau tidak, ia tidak mau ambil karena diperkirakan masih bisa naik lagi. Namun, ternyata pasar goyang sehingga modalnya hanya tinggal Rp 60 juta.
“Ketamakan dan ketakutan investor ini bisa terjadi di tempat lain, karena tidak punya disiplin. Di Generali ada disiplin, seperti Auto Trading Plan,” ucap Edy. Misalnya, seorang investor masuk dengan modal Rp 100 juta. Sebelumnya, investor telah membuat persetujuan dengan planner: ia akan take profit jika naik 40%, dan cut loss jika minus 10%. Lalu, ia mendapat untung 20%, naik lagi menjadi 30%. Akan tetapi, sistem belum merespons. Nah, ketika keuntungannya naik 40% menjadi Rp 150 juta, sistem secara otomatis akan mengunci untuk ambil keuntungan. Sebaliknya, ketika modalnya turun menjadi Rp 90 juta, sistem langsung melakukan cut loss, untuk dipindahkan ke money market supaya tidak kebablasan.
“Bagaimana caranya? Sistem TI yang melakukan monitoring setiap hari. Ketika sampai pada angka tertentu yang disepakati, sistem secara otomatis akan mengunci dan melakukan switching,” ujar Edy. “Jadi, setiap nasabah tidak perlu memantau pasar saham dan pasar uang setiap hari. Biarkan sistem kami yang bekerja.”
Menurut Edy, pengembangan ARMS telah memberikan beberapa manfaat, baik kepada nasabah maupun perusahaan. Manfaat paling utama dari ARMS adalah memberikan perasaan aman bagi nasabah dan keleluasaan dalam merancang perjalanan finansial. “Oleh karena merasa aman, impact-nya orang jadi lebih berani berinvestasi, sehingga return lebih tinggi. Investasi jangka panjang jadi lebih bagus,” ujar Edy. “Bagi perusahaan, dengan adanya ARMS ini, cost jadi lebih murah, sehingga jauh lebih efisien,” tambahnya.
Klaim Edy diamini salah satu nasabahnya, Ariyanto Erlangga. Menurut pria berumur 43 tahun yang telah menjadi nasabah Generali sejak April 2011 ini, ARMS yang dikembangkan Generali sangat membantu. Sebab, selama ini ia menjadi pemegang polis dari beberapa perusahaan asuransi, tetapi tidak ada yang memiliki “sistem rem” seperti ARMS di Generali. Akibatnya, kalau saham anjlok, investasi juga menurun. “Saat ini saya tidak takut lagi dalam berinvestasi,” ucap Ariyanto. “Tetapi, perlu sosialisasi secara detail agar kita semua lebih tahu kegunaan ARMS,” tambah Ariyanto menyarankan.
Baik Edy maupun Rommy sepakat bahwa ARMS baru langkah pertama Generali untuk memberikan pelayanan dan perlindungan kepada nasabahnya. “Masih banyak rencana yang akan dikembangkan ke depannya. The ultimate goal kami adalah ingin memberikan proteksi kepada nasabah,” ujar Edy.
“Perencanaan TI selanjutnya adalah bisa menjadi business driver dibanding hanya menjadi sekadar business support maupun business enabler,” kata Rommy menambahkan. (*)
Tentang Generali Indonesia
Generali merupakan perusahaan asuransi dan keuangan global, yang berada di bawah Assicurazioni Generali di Italia. Generali didirikan pada 1831 di Trieste, Italia. Masuk ke Indonesia pada awal 2008.
Untuk memasarkan produknya, Generali telah menjalin kerja sama (sebagai produk bancassurance) dengan DBS Indonesia Bank, menawarkan produk Unit Link dengan Auto Risk Management System yang dinamakan iDARE – insurance Dynamic Asset Rebalancing. Juga, dengan ANZ Bank, menawarkan produk asuransi jiwa berbentuk UnitLink dengan pembayaran premi tunggal yang menawarkan alokasi fleksibel antara investasi dan perlindungan jiwa yang sesuai dengan kebutuhan, yang disebut Ultimate Balance Protection (UB Pro).
Sabtu, 22 Februari 2014
Penayangan Iklan ARMS [ARMS Testimonial Campaign]
Berikut ini adalah schedule penayangan iklan ARMS di media :
|
Jawa Pos |
January 20, 2014 |
|
Lombok Pos |
January 20, 2014 |
|
Analisa |
January 20, 2014 |
|
Bali Pos |
January 20, 2014 |
|
Batam Pos |
January 20, 2014a |
|
Riau Pos |
January 20, 2014 |
|
Tanjung Pinang Pos |
January 20, 2014 |
|
Suara Merdeka |
January 20, 2014 |
|
SWA Magazine |
January 23, 2014 |
|
Kompas |
February 3, 2014 |
|
Jawa Pos |
February 3, 2014 |
|
Analisa |
February 3, 2014 |
|
Tribun Kaltim |
February 3, 2014 |
|
Bali Pos |
February 3, 2014 |
|
Batam Pos |
February 3, 2014 |
|
Riau Pos |
February 3, 2014 |
|
Pikiran Rakyat |
February 3, 2014 |
|
Suara Merdeka |
February 4, 2014 |
|
Kompas |
February 10, 2014 |
|
Jawa Pos |
February 10, 2014 |
|
Analisa |
February 10, 2014 |
|
Bali Pos |
February 10, 2014 |
|
Batam Pos |
February 10, 2014 |
|
Riau Pos |
February 10, 2014 |
|
Fajar |
February 10, 2014 |
|
Suara Merdeka |
February 11, 2014 |
|
Jawa Pos |
February 12, 2014 |
|
Analisa |
February 12, 2014 |
|
Bali Pos |
February 12, 2014 |
|
Batam Pos |
February 12, 2014 |
|
Riau Pos |
February 12, 2014 |
|
Suara Merdeka |
February 13, 2014 |
|
Kompas |
February 17, 2014 |
|
Analisa |
February 17, 2014 |
|
SWA Magazine |
February 20, 2014 |
|
Analisa |
February 24, 2014 |
|
Kompas |
February 25, 2014 |
|
Infobank |
March 1, 2014 |
|
Info Gading |
March 1, 2014 |
|
Info Serpong |
March 1, 2014 |
|
Kompas |
March 3, 2014 |
|
SWA Magazine |
March 6, 2014 |
|
SWA Magazine |
March 17, 2014 |
|
Info Gading |
April 1, 2014 |
|
Info Serpong |
April 1, 2014 |
|
SWA Magazine |
April 10, 2014 |
Langganan:
Postingan (Atom)











