visi & misi

Tampilkan postingan dengan label asuransi adalah warisan terbaik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label asuransi adalah warisan terbaik. Tampilkan semua postingan

Rabu, 19 November 2014

SURAT DARI AYAH





Hari ini, seperti biasa, ayah keluar rumah untuk pergi mencari nafkah.

Seperti biasa, ayah mencium ibu dan aku, lalu tersenyum dan berpesan seperti biasanya:

"Nantikan ayah pulang ya..."
"I LOVE YOU"


Lalu suara motor kesayangannya menderu dan meninggalkan kami.

Tapi siapa menyangka, hari itu adalah ciuman ayah untuk yang terakhir kalinya.

Sore itu ayah pulang, yang biasa pulang sendiri dengan motornya, kini yang aku lihat motornya HANCUR.

Ayah turun dari AMBULANCE, tapi bukan turun sendiri, berdiri dan berjalan sendiri melainkan diangkat orang yang tidak aku kenali.

Ayahku pulang, bukan ayah seperti tadi pagi, ayah tidak lagi berpakaian kerja.

Tapi kini, berpakaian serba putih bersih yang membungkus sekujur tubuhnya.

Tadi pagi ayah begitu mesra mencium ibu dan aku, begitu hangat dan dekat.

Sore ini aku dan ibu yang menciumnya, tapi ayah begitu dingin dan terasa sangat jauh.

Aku lihat ibu yang dulu tegar dan kuat, ternyata saat ini begitu rapuh.

Aku mulai menyadari, kepergian ayah tidak meninggalkan apapun untuk aku dan ibu.

Aku pun tersadar, selama ini yang menafkahi aku dan ibu adalah ayah.

Aku jadi ketakutan dan bertanya dalam hati, bagaimana tentang cita-citaku menjadi dokter yang dijanjikan ayah.
Aku hanya menangis tersedu tanpa pernah ada lagi yang mendiamkanku.

INI BUKAN MIMPI

Aku lihat dengan jelas, tanah gembur itu menguburnya, dan sekarang aku lihat dengan sadar, nama Ayah terukir di kayu pancang ala kadar sebagai penanda pusaranya.

Satu minggu kemudian, aku melihat ibu di kamarnya tekun memegang sesuatu, ibu membaca sesuatu, aku lihat ibu menangis lalu memelukku.

Secarik kertas melayang jatuh di kakiku lalu aku pungut dan baca.

Tertulis tanggal di saat hari kepergian ayah:

"Istriku, kau adalah sosok wanita yang sempurna di hatiku, kita lewati hari dalam kondisi pas-pasan."

"Kau tetap tabah dalam segala hal, melayani aku tanpa kurang sedikitpun, walaupun kau tahu, gajiku di tempat aku bekerja, tidak cukup untuk membeli bajumu yang tidak terganti seumur anak semata wayang kita."

"Aku tau kau begitu menghormati aku sebagai pemimpin rumah tangga, dan selalu menghargai keterbatasanku."

"Istriku, aku sadar, untuk menaikkan taraf ekonomi kehidupan kita dan membuktikan janjiku untuk memberikan pendidikan yang terbaik untuk anak kita, perlu proses dan butuh waktu untuk merintisnya."

"Maka, hari ini aku harus berkata jujur kepadamu, Dalam setahun ini, tentang gaji yang telah aku potong setiap bulannya darimu, yang selama ini aku alaskan untuk keperluanku sendiri, dan aku masih ingat kau selalu cemberut ketika kau sadar amplop gajiku kurang Rp 2.000.000,-"

"Aku pun tau, uang sebesar itu sangat berarti bagimu dalam mengelola keperluan kita sehari - hari selama ini."

"Sebenarnya, uang tersebut aku tabungkan di sebuah perusahaan ASURANSI, melalui teman sekokahku dulu, yang bekerja di perusahaan asuransi tersebut."

"Aku tau, kau pasti tidak suka mendengarkan ALASAN kenapa aku harus memiliki POLIS ASURANSI ini."

"KEMATIAN..."

"Ya, kita sadari, tidak seorangpun yang tau KEPASTIAN ini kapan waktunya tiba."

"Tapi aku percaya dengan isi POLIS ASURANSI yang telah aku miliki, bahwa ketika AKU MATI, perusahaan asuransi ini MENJAMIN Rp 1 MILYAR untukmu dan anak kita."

"Aku rasa JAMINAN ini pantas buatmu dan anak kita, hal ini tak lain sebagai bukti CINTAKU & TANGGUNG JAWABKU sebagai pemimpin keluarga yang belum punya apa-apa untuk kalian."

"Sosok Ayah tidak dapat diganti, tapi TANGGUNG JAWAB ayah telah ada yang menggantikannya, agar kalian tidak menjadi BEBAN orang lain."

POLIS ASURANSI JIWA

"Dengan polis itu, aku yakin, anak kita pasti dapat wujudkan cita - citanya menjadi DOKTER, aku pasti bangga."

"Dan jangan lupa, rutinlah kau santuni yatim piyatu dan fakir miskin di sekitar rumah kita, lalu kau niatkan untukku ketika aku kembali ke pangkuan SANG MAHA PEMILIK SEGALANYA."

"Istriku, jika ketentuan ini telah terjadi, bersabarlah, kau harus terus berjuang dan hidup, dan lakukanlah hal yang terbaik untuk keluarga kecil kita."

"BUAT AKU BANGGA...!!!"

"AKU CINTA KALIAN."

Sabtu, 27 September 2014

Fantastis! Karyawan Google Tetap Terima Gaji Walaupun Sudah Meninggal

Siapa yang tidak kenal Google, mesin pencari dengan algoritma paling cerdas saat ini. Hasil pencarian dari Google kian hari terasa makin mengerti apa yang sedang kita cari dan inginkan. Google juga merupakan salah satu perusahaan impian semua orang dapat bekerja disana.

Google-pun memiliki banyak reputasi yang spektakuler dan fantastis dalam produk - produk yang dimilikinya seperti Youtube, Google Chrome, Blogger, Android, Google Maps, Gmail, Google Translate, Google Drive, Google Apps, Google Adsense, Google Calendar, Google+ dan masih banyak lagi. 

Silakan hitung sendiri dalam gambar ini.Sebagian besar layanan dan produk yang mereka miiki disediakan secara cuma - cuma tanpa mengurangi profesionalitas mereka, mereka tetap memberikan layanan dukungan jika diperlukan, mereka juga memberikan fitur dan fasilitas yang layaknya tidak akan didapat jika kita berlangganan secara cuma - cuma. Siapa yang tidak suka gratisan tapi fitur berlimpah dan ok punya?






Tidak hanya sampai disitu, Google sangat memperhatikan kesejahteraan karyawannya. Mereka merawat karyawannya layaknya sebuah aset yang tak ternilai harganya dan dengan cara inilah Google menuai cinta dari karyawannya sebagai feedback atas perhatian yang sangat baik kepada mereka. Terbukti dari pertumbuhan karyawannya yang cukup signifikan, dari 10.000 orang di tahun 2010 dan di tahun 2012 menyentuh angka 30 ribu karyawan, meningkatnya produktifitas dan kreatifitas kerja dari tahun ketahun.

Yang sangat menarik salah satunya adalah pemberian dana kematian bagi mantan karyawannya (mereka menyebutannya dengan panggilan Xoogler, mungkin singkatan dari eks Googler). Ini termasuk tawaran untuk membayarkan separuh gaji si karyawan yang meninggal dunia kepada pasangannya selama satu dekade. 

Bahkan, Google tak mengenakan syarat masa kerja apa pun untuk fasilitas ini. Artinya, sebagian besar dari 30.000 karyawannya dapat menikmatinya. Namun, tawaran itu sejauh ini baru berlaku bagi karyawan Google di Amerika Serikat saja. Skema dana kematian itu sudah diterapkan pada awal tahun ini.

Laszlo Bock, SVP, People Operations dari Google mengatakan bahwa manfaat dana kematiaan itu tidak stop pada gaji saja. Pasangan karyawan Google yang meninggal akan mewarisi manfaat saham dan anak mereka akan mendapat USD 1.000 per bulan sampai usia 19 tahun.Google memastikan keluarga karyawan terurus ketika ada kejadian tak terduga – bahkan meskipun itu tak bermanfaat langsung bagi bisnisnya.

Tapi, manfaat dana kematian itu bakal menarik lebih banyak kandidat untuk bekerja pada Google dan membuat karyawan lebih loyal. Google sendiri mengaku hal itu hanya efek samping, bukan alasan perusahaan memberikan dana kematian.

“Adalah lebih baik untuk bekerja pada perusahaan yang peduli dengan Anda daripada perusahaan yang tidak. Dan dari sudut pandang perusahaan, adalah lebih untuk peduli daripada tidak,” kata Laszlo Bock.

Tidak banyak dan mungkin hanya Google satu - satunya perusahaan yang memberikan tunjangan kematian dengan skala besar. Tunjangan kematian ini dan jaminan kesejahteraan jika si pencari nafkah meninggal dunia juga bisa ditemukan pada beberapa jenis asuransi, seperti Prulink, tidak saja proteksi tetapi juga investasi, tidak hanya satu proteksi tapi dipaket dalam beberapa manfaat proteksi sekaligus.

Jika bekas perusahaan dimana anda pernah bekerja atau perusahaan dimana saat ini anda bekerja tidak memberikan manfaat serupa yang ditawarkan Google, Inc - jangan pikir panjang, silakan kontak SAYA segera agar anda tidak lupa untuk memberikan jaminan kepada generasi penerus anda, layaknya mendapatkan manfaat yang serupa dengan diberikan Google bagi karyawannya bahkan ini lebih baik.

 

Senin, 21 Juli 2014

Bagaimana Meraih Kemandirian Finansial

Istilah financial quotient mungkin tidak sepopuler intelegent quotient, emotional quotient atau bahkan spiritual quotient. Financial quotient (Fin-Q) adalah kesadaran akan kondisi keuangan dan kemampuan seseorang dalam memahami pentingnya perencanaan keuangan dan mengimplementasikan tata kelola keuangan dengan baik.

Untuk mengukur Fin-Q, Citigroup Asia Pacific melakukan wawancara online dengan 100 responden di Indonesia. Responden yang digunakan adalah berusia 18 tahun ke atas, memiliki rekening bank atau kartu kredit.

Beberapa pertanyaan yang diajukan antara lain:

  • Apakah Anda puas dengan kualitas kehidupan? 
  • Apakah Anda sudah mapan dalam menghadapi kondisi keuangan di masa mendatang? 
  • Apakah Anda  membuat anggaran dan mematuhinya setiap bulan? 
  • Apakah Anda menabung setiap bulannya?

Nilai Citi Fin Q untuk Indonesia menunjukkan rata-rata 51 dari 100 poin atau berada di posisi average low. 

"51 persen mempunyai kemampuan financial planning dengan baik," kata Retail Bank Head Citibank Meliana Sutikno.

Separuh responden menyatakan puas akan kualitas kehdiupannya, atau 59 persen. Sementara sisanya 41 persen merasa tidak puas. Sebagian besar juga merasa optimistis (78 persen) menghadapi keuangan di masa depan, dan 23 persen khawatir akan keuangan di masa depan.


Orang Indonesia umumnya tidak bermasalah dengan kartu kredit karena 54 persen orang Indonesia membayar penuh tagihan kartu kredtinya secara reguler. Namun demikian orang Indonesia belum memiliki disiplin menabung karena hanya 47 persen mempunyai kebiasaan menabung, sementara 45 persen berusaha menabung saat memungkinkan.

Sedangkan hanya 29 persen mematuhi anggaran bulanan yang dibuatnya dan 82 persen baru dalam tahap berusaha mengikuti anggaran. 

"Pada umumnya orang Indonesa paham bahwa menabung itu penting, namun tidak memiliki disiplin untuk menyisihkan uang dan mengikuti rencana anggaran," tuturnya.

Dari hasil tersebut orang Indonesia tidak memiliki kemampuan finansial di masa pensiun. 

Hanya 19 persen cukup yakin akan berapa dana yang dibutuhkan saat pensiun, 41 persen tidak tahu kebutuhan dana di masa pensiun, 23 persen telah memiliki rencana pensiun formal dan 24 persen belum memulai rencana apapun.

Terkait masa pensiun, 52 persen percaya tabungan pensiun akan membawa ke kehidupan yang nyaman, sementara 49 persen tidak yakin sama sekali mengenai hal itu. 

Ironisnya jika ia kehilangan pekerjaan, 1 dari 5 orang Indonesia menyatakan bahwa tabungannya hanya mencukupi untuk 4 minggu mendatang. Sementara sisanya 81 persen memiliki tabungan untuk 11 minggu saja.

"Di masa pensiun terdapat orang tua yang bergantung pada anaknya dengan demikian saat mencapai hari tua pun orang tersebut tidak mampu mencapai kemandirian finansial," jelasnya.

Orang Indonesa juga masih belum percaya akan asuransi. Hal itu ditunjukkan dengan 43 persen merasa sudah terlindungi asuransi dan 31 persen tidak memiliki asuransi sama sekali. 

Orang Indonesia juga masih sedikit yang memahami bagaimana berinvestasi, karena jika diberi 6 bulan gaji untuk diinvestasikan hanya 39 persen yang benar-benar tahu bagaimana dana tersebut akan diinvestasikan.

Untuk mencapai kemandirian finansial, maka dianjurkan untuk melakukan hal-hal yaitu menentukan tujuan finansial jangka pendek dan jangka pajnang. Sebaiknya  juga membuat anggaran dan menabung secara reguler sesuai dengan rencana anggaran.

Dalam mendukung investasi  sebaiknya setiap orang memahami produk dan layanan keuangan sehingga dapat mengalokasikan dana tidak hanya untuk menabung, tetapi juga untuk berinvestasi agar dana yang dimiliki dapat menghasilkan pengembalian lebih besar.


Anda juga harus melakukan proteksi diri untuk hari tua beserta anggota keluarga.

Jumat, 30 Mei 2014

INSPIRATION: MAKNA CINTA SEJATI YANG SESUNGGUNGNYA


Kisah nyata yang bagus sekali untuk contoh kita semua yang saya dapat dari millis sebelah (kisah ini pernah ditayangkan di MetroTV). 

Ini cerita nyata, beliau adalah Bp. Eko Pratomo Suyatno, Direktur Fortis Asset Management yg sangat terkenal di kalangan Pasar Modal dan Investment, beliau juga sangat sukses dlm memajukan industri Reksadana di Indonesia. Apa yg diutarakan beliau adalah sangat benar sekali. Silakan baca dan dihayati.

Dilihat dari usianya beliau sudah tidak muda lagi, usia yg sudah senja bahkan sudah mendekati malam, Pak Suyatno 58 tahun kesehariannya diisi dengan merawat istrinya yang sakit istrinya juga sudah tua.Mereka menikah sudah lebih 32 tahun. Mereka dikarunia 4 orang anak.
 
Disinilah awal cobaan menerpa, setelah istrinya melahirkan anak keempat tiba-tiba kakinya lumpuh dan tidak bisa digerakkan. Itu terjadi selama 2 tahun. Menginjak tahun ke tiga, seluruh tubuhnya menjadi lemah bahkan terasa tidak bertulang, lidahnyapun sudah tidak bisa digerakkan lagi.

Setiap hari pak suyatno memandikan, membersihkan kotoran, menyuapi, dan mengangkat istrinya keatas tempat tidur. Sebelum berangkat kerja, dia letakkan istrinya didepan TV supaya istrinya tidak merasa kesepian. Walau istrinya tidak dapat bicara tapi dia selalu melihat istrinya tersenyum.

Untunglah tempat usaha pak suyatno tidak begitu jauh dari rumahnya sehingga siang hari dia pulang untuk menyuapi istrinya makan siang. Sorenya dia pulang memandikan istrinya, mengganti pakaian dan selepas waktu maghrib dia temani istrinya nonton televisi sambil menceritakan apa2 saja yg dia alami seharian. Walaupun istrinya hanya bisa memandang tapi tidak bisa menanggapi, Pak Suyatno sudah cukup senang, bahkan dia selalu menggoda istrinya setiap berangkat tidur.

Rutinitas ini dilakukan Pak Suyatno lebih kurang 25 tahun, dengan sabar dia merawat istrinya bahkan sambil membesarkan ke 4 buah hati mereka, sekarang anak2 mereka sudah dewasa, tinggal si bungsu yg masih kuliah.
 
Pada suatu hari, ke empat anak suyatno berkumpul dirumah orang tua mereka sambil menjenguk ibunya. Karena setelah anak mereka menikah, sudah tinggal dengan keluarga masing-masing dan Pak Suyatno memutuskan ibu mereka dia yang merawat, yang dia inginkan hanya satu semua anaknya berhasil.
 
Dengan kalimat yang cukup hati-hati anak yg sulung berkata “Pak kami ingin sekali merawat ibu, semenjak kami kecil melihat bapak merawat ibu, tidak ada sedikitpun keluhan keluar dari bibir bapak, bahkan bapak tidak ijinkan kami menjaga ibu”.
 
Dengan air mata berlinang anak itu melanjutkan kata-kata: “sudah yang keempat kalinya kami mengijinkan bapak menikah lagi, kami rasa ibupun akan mengijinkannya, kapan bapak menikmati masa tua bapak, dengan berkorban seperti ini kami sudah tidak tega melihat bapak. Kami janji kami akan merawat ibu sebaik-baik secara bergantian”.

Pak Suyatno menjawab hal yg sama sekali tidak diduga anak-anaknya: “Anak-anakku… Jikalau perkawinan & hidup di dunia ini hanya untuk nafsu, mungkin bapak akan menikah.. tapi ketahuilah dengan adanya ibu kalian disampingku itu sudah lebih dari cukup, dia telah melahirkan kalian. Sejenak kerongkongannya tersekat, kalian yg selalu kurindukan hadir didunia ini dengan penuh cinta yg tidak satupun dapat dihargai dengan apapun.”
 
“Coba kalian tanya ibumu apakah dia menginginkan keadaannya seperti ini? Kalian menginginkan bapak bahagia, apakah bathin bapak bisa bahagia meninggalkan ibumu dengan keadaanya sekarang, kalian menginginkan bapak yang masih diberi Tuhan kesehatan dirawat oleh orang lain? Bagaimana dengan ibumu yg masih sakit.”
 
Sejenak meledaklah tangis anak-anak pak suyatno. Merekapun melihat butiran-butiran kecil jatuh dipelupuk mata ibu Suyatno. Dengan pilu ditatapnya mata suami yg sangat dicintainya itu.
 
Sampailah akhirnya Pak Suyatno diundang oleh salah satu stasiun TV swasta untuk menjadi nara sumber dan merekapun mengajukan pertanyaan kepada Suyatno, kenapa mampu bertahan selama 25 tahun merawat Istrinya yang sudah tidak bisa apa-apa.

Disaat itulah meledak tangis beliau dengan tamu yang hadir di studio, kebanyakan kaum perempuanpun tidak sanggup menahan haru. Disitulah Pak Suyatno bercerita..” Jika manusia didunia ini mengagungkan sebuah cinta dalam perkawinannya, tetapi tidak mau memberi (memberi waktu, tenaga, pikiran, perhatian) itu adalah kesia-siaan”.
 
“Saya memilih istri saya menjadi pendamping hidup saya, dan sewaktu dia sehat diapun dengan sabar merawat saya, mencintai saya dengan hati dan bathinnya bukan dengan mata, dan dia memberi saya 4 orang anak yg lucu-lucu. Sekarang dia sakit karena berkorban untuk cinta kita bersama. Dan itu merupakan ujian bagi saya, apakah saya dapat memegang komitmen untuk mencintainya apa adanya. Sehatpun belum tentu saya mencari penggantinya apalagi dia sakit…”
 
Hidup adalah Perjuangan tanpa henti-henti, tidak usah kau tangisi hari kemarin.

Semoga kita dapat mengambil pelajaran dari kisah LUAR BIASA ini.

PELUANG BISNIS * PASSIVE INCOME GENERALI